<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=28179318&amp;blogName=The+Prima+World&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Flovelyprima.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Flovelyprima.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
♥The Prima World ♥
Wednesday, September 26, 2007

I understand that there's some problems
And I'm not too blind to know
All the pain you kept inside you
Even though you might not show
If I can't apologize for being wrong
Then it's just a shame on me
I'll be the reason for your pain
And you can put the blame on me

You can put the blame on me
You can put the blame on me
You can put the blame on me
You can put the blame on me...
(Akon - Sorry, blame it on me)

I sing this song everyday.....

Labels: ,

|
Monday, September 17, 2007

Hai...hai...seminggu sudah saya terpuruk. Beberapa kali keluar masuk laboratorium, ngecek ini, ngecek itu. Tapi panas tak kunjung sembuh, malah nambah-nambah penyakitnya. Alhmadulillah, setelah menyusahkan dokter dengan penyakit misterius, akhirnya nemu titik temu. Bukan chikungunya, demam berdarah, tipus, infeksi pencernaan, ginjal dst. Tapi saya kena gabak. Hehehe... seminggu nggak mandi dan masih nunggu 2 minggu lagi. Alhamdulillah saya juga mulai berpuasa. Sudah merasa sehat walau masih lemas. Minggu ini kayaknya masuk babak baru...kulit saya mulai mengelupas. Uhm, masih merah-merah siy...hehehe...
Gabak?! Unpredictable. Tapi saya yakin, saya tidak terkena penyakit parah :p Alhamdulillah.
Lil juga menghembuskan nafas terakhir. Maafkan aku ya, Lil! Nggak bisa jagain kamu. Mr. DC kembali lagi jadi anak tunggal yang disayang mama ;p
Warninglah buat diri saya untuk lebih menjaga diri, menjaga kesehatan karena semuanya itu karunia yang tiada tara. Mahal! Selama sakit aku 'diracuni' buku-buku Andrea Hirata. Must read! Keren abis... itulah hidup yang sulit namun jika punya mimpi kita tetap akan hidup hingga 1000 tahun lagi.
Oke, selamat menjalankan ibadah puasa, ya..... GBU

Labels:

|
Friday, September 07, 2007


“Kenapa sih senyum-senyum terus dari tadi pagi?” Tanyaku pada rekan kerjaku, Citra, yang semenjak pagi tadi tersenyum-senyum simpul.
“Aku membayangkan Dipta melamarku di tengah-tengah acara makan malam yang super romantis”. Jawabnya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, ”Pakai acara nyanyi-nyanyi, nggak?” Aku menggodanya, karena Dipta, kawanku saat SMU itu tipikal orang yang memiliki kepercayaan diri super duper tinggi. Walaupun suaranya melompat beberapa oktaf hingga kuping yang mendengar bisa dibuat tuli sesaat, menurut Dipta...show must go on no matter what.
”Nggak, lah. Menaruh cincin di dalam ice cream yang dihidangkan... Ah, romantis sekali”. Khayalan Citra membumbung semakin tinggi.
“Hati-hati lho, tuh cincin bakalan ketelen”. Godaku terkekeh.
”Ah, kamu... palingan juga kalau dilamar lewat MMS doang!” Sahut Citra sewot.
”Ha ha ha...” Aku tergelak.
Bakalan bagaimana ya, abang akan meminangku. Abang bukan tipikal manusia romantis, maklum tentara. Dia lebih paham sikap sempurna, protokol kenegaraan, semuanya yang serba teratur dan terencana, deh. Aku pun ikut-ikutan tersenyum simpul. Jangan-jangan abang nanti melamarku di tempat paint ball, atau rekaman saat dia terjun payung dengan tulisan diparasutnya will you marry me. Khayalan konyol. Tapi, aku masih perempuan waras yang mau dilamar dengan cara-cara spesial dan super romantis. Yang unforgetable momment gitu. Hayo ngaku, semua pada pengen begitu, kan? Ya, kan?
*****

Brrr…udara yang kelewat dingin menyergapku begitu keluar dari bandara JFK. Sebenarnya sudah masuk musim semi namun udara dingin kadang-kadang masih berhembus. Di antara keramaian orang yang lalu lalang, aku di sini. Tanganku memegang erat amplop biru yang dikirimkan abang padaku beserta tiket pesawat dan pasporku. Amplop yang baru boleh kubaca saat berada di atas pesawat tadi. Abang mengundangku untuk datang ke New York. Tempatnya menempuh studi lanjutan.
Aku belum berhasil mencegat satupun taksi karena selalu penuh, meskipun jumlah taksi yang mengantri berderet-deret banyaknya dan sanggup membuat kepalaku pusing. Belum lagi aku dipusingkan dengan jet leg, angin yang membawa udara dingin menusuk tulang, hingga sesuatu yang misterius dibalik undangan abang kemari. Sampai detik ini aku tidak paham dengan maksudnya. Dalam teleponnya, dengan semangat empat lima dia mengundangku. Memang, sudah delapan bulan ini kami tidak bertemu. Apa semangatnya itu akibat rasa kangen yang kronis? Amplop biru yang baru kubaca di atas pesawat mengatakan...

for my lovely bella,

They said that it is love when all you want is that the person to be happy. So I guess it is truly love that I’ve been feeling for you, for all I want is to see you happy. Come and meet me, darling.

Abang yang tidak pernah romantis, mendadak menjadi romantis. Namun justru keromantisannya itu membuatku bingung bukan kepalang. Mendadak mengundangku kemari dengan sebait kata-kata puitis namum membingungkan. Tidak mudah mendatanginya dengan membelah lautan menuju tempat yang asing bagiku. Akhirnya aku berhasil mendapat sebuah taksi yang membawaku menuju hotel.
*****

Keesokan harinya aku bangun dengan perasaan bingung. Dimana aku? Namun aku sadar, aku sedang berada di New York. Ber-mil-mil jauhnya dari Indonesia.. Sehabis mandi, petugas hotel mengetuk pintuku dan mengantarkan rangkaian bunga mawar putih besar dan sekotak cokelat. Ternyata dari abang. Hah?! Apa yang kau harapkan Margie?! Nggak mungkin Josh Harnett yang mengirimimu bunga. Aku membaca pesan yang terselip di dalam karangan bunga.

Kutunggu di lobi pukul 7 PM

Pesan yang amat singkat namum membuatku makin penasaran, mengalahkan jet leg yang menari-nari dikepalaku, menghasilkan efek pusing. Aku mempersiapkan diri sesempurna mungkin. Sementara detik waktu terseret-seret pelan.
*****
Pukul tujuh tepat, aku turun ke lobi menemui abang. Abang segera bediri dan menghampiriku begitu melihatku turun dari lift. Pelukan hangat menyambutku tak terasa bibir kita saling bertautan. Untung ini bukan Indonesia.
Ternyata malam itu aku diajak ke Nederlander theater di Brodway. Wow, salah satu impianku, mengunjungi Broadway. Berbagai warna dan bentuk neonflash menerangi jalan yang sangat termasyur itu. Kami berjalan pelan sambil bergandengan tangan. Sesekali genggaman kami terlepas kala melewati tiang yang berjajar di sisi jalan. Tiap kali tangannya meraih kembali jemariku ke dalam genggamannya, tiap kali itu pula aku merasakan kehangatan di tengan cuaca dingin yang menusuk tulang.
Malam itu berakhir dengan kecupan manis di dahiku begitu tiba di depan hotel.
”Terima kasih,” Ucapku.
”Selamat malam dan mimpi indah”. Ucap abang sebelum meninggalkan hotel.
Aku tetap berdiri di depan pintu hotel hingga bayang-bayang abang tak nampak lagi.
*****
Aku menghirup napas panjang, berusaha memasukkan udara segar sebanyak-banyaknya ke paru-paruku. Central park kembali dihiasi warna-warna semarak. Pohon-pohon perlahan mulai menghijau dan semak-semak kembali dipenuhi kelopak-kelopak anaka ragam, sementara kicauan burung bagai rangkaian merdu simponi yang hilang selama musim dingin. Inilah keindahan musim semi.
”Sayang...nggak terasa sudah lebih dari empat tahun, ya, kita barengan” Kata abang sambil menggenggam tanganku.
”Empat tahun tujuh bulan tepatnya,bang”. Ucapku manja.
”Iya, abang sayang bener sama Margie”.
”Aku juga”. Aku tersipu malu.
Tiba-tiba abang bersimpuh, mengeluakan kotak hitam kecil berbahan beludru. Seorang hispanik yang tengah jogging berhenti, memperhatikan kami sambil tersenyum. Sepasang remaja pun berhenti. Lebih tepatnya kini kami menjadi tontonan banyak orang yang melintas di Central Park.
Nafasku menjadi sesak. Tiba-tiba tanaman di sekelilingku merebut oksigenku. Aku berusaha keras mengumpulkan udara untukku bernafas.
”Margie, will you marry me?” Ucap abang pelan-pelan dan hati-hati.
Aku...aku makin tidak bisa bernafas, semuanya menjadi berputar, makin lama gelap dan aku menghilang.

”Margie...margie...” Abang mengguncang-guncang tubuhku. ”Margie jangan bikin aku takut, Margie!”
Samar-samar aku tersadar. Muka abang nampak makin jelas. Dimana aku? Aku di taman, tapi kok bukan central park?!
”Margiee...!!” Abang mengguncang tubuhku.
Tunggu-tunggu! Aku kembali mengingat-ingat.
”Ya ampun!” Aku buru-buru bangkit.
Kepalaku senut-senut dan benjol membuatku meringgis kesakitan.
”Aarrgghh....!” Jeritku kesal.
Ternyata....oh....tenyata. Tadi ketika aku sedang menanam bunga, abang datang dan tiba-tiba saja berkata, ”Tahun ini kita nikah, yuk!?” Notasi dan ekspresinya sama seperti saat berkata, ”Main bola, yuk!?” Aku kaget, aku terjengkang ke belakang dan buah mangga yang bergelantung di atasku menimpa kepalaku hingga aku pingsan.
”Abang...!!!” Aku menghujani abang dengan pukulan.
”Kenapa Gie, kamu nggak kerasukan penunggu pohon mangga, kan?” Tanya abang bingung sambil menahan pukulanku yang datang dari berbagai arah.
”Mau ngelamar yang serius dong!”. Seruku sewot.
”Aku serius!” Kata abang.
”Maksudku yang romantis dong, jangan di kebon belakang rumah dekat kandang ayam begini”. Ucapku seraya meninggalkan dirinya.
”Margie, Margie....”. Abang mengejarku.
”Apa?!” Aku berhenti.
”Ntar keluargaku tetep ke sini kok, ngelamar kamu secara resmi seperti biasa”. Ujar Abang.
“Harusnya kamu bertanya dulu ke aku. Kan yang kamu nikahi aku”. Suaraku naik beberapa oktaf .
”Yang tadi di kebun?! Aku kan bertanya sama kamu”.
”Hah?! Cuma itu? Gitu doang?!” Aku menepuk jidatku. ”Abanggg!!!”
”Apa?!”
”Aku tuh selalu membayangkan lamaran yang unforgetable”.
”He he he... yang tadi bukan unforgetable, ya? Kamu sampai pingsan dan benjol gitu”. Abang masih bisa bercanda sementara aku sewot nggak karuan. “Woahh, jangan marah dong!”.
“Abang, sih!”
Abang garuk-garuk kepala bingung membujukku. “Kamu nggak mau, ya, menikahi aku?” Tanyanya dengan muka memelas.
”Ya maulah!” Ucapku.
”Terus?!” Tanyanya lagi.
”Aarggghhh...sudah-sudah! Kepalaku tambah pusing ngobrol sama kamu. Aku mau menikah sama kamu, kamu ngomong aja langsung sama ayah, nggak jadi pake acara romantis-romantisan segala”. Aku masih merengut.
Abang tersenyum, melihatku mulai mencair.
“Nggak usah senyum-senyum!” Ujarku ketus.
Abang menahan tawanya sambil mengekspresikan muka bersalah.
”Ha ha ha...” Kali ini tawaku yang lepas melihat ekspresi mukanya. ”Abanggg!” Aku mencubit pipinya.
”Katanya nggak boleh ketawa, kok kamu yang tertawa”.
”Ah, udahlah....anterin aku ke rumah sakit, sapa tahu aku kena gegar otak, nih”.
”Maaf ya, sayang!” Ucap abang lembut.
Aku terdiam. Menatap matanya dengan dalam. ”I love you, bang!” Aku mengecup pipinya.
”I love you too, Margie!” Abang memelukku.
Oh, so sweet….
*****
By : PRIMADIKA


Labels:

|
Monday, September 03, 2007

video

Chicklit asli Indonesia keluaran pertama. Lama banget prosesnya ampe bisa jadi sebuah film. Nonton Cintapucinno seperti flash back masa lalu. Hehehe...tentang Nemo masa lalu, mana lagunya jaman2 jadul gitu. Lagunya Yana Julio, selamanya cinta versi D' cinnamon, yang 'Andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku...hingga membuat kau percaya...' Halah, jadi nostalgia finding Nemo....Sayangnya Nemo saya udah finding sih, tapi...sometimes something look good only in the past :p Jadi nggak jadi Nemo lagi lah, better be a friend. Btw, ada yang bilang..."Nggak takut bakal kejadian kayak Rahmi?" Kalau aku sih, justru say thanks ke Raka. Tapi habis gitu aku bunuh pake pisau daging. Hahaha...Cinta butuh perjuangan, man! Tapi kalau takdir?!...Halah!

Kayaknya bener deh, jangan membandingkan film dari novel, karena ekspektasinya terlalu tinggi. Buat Nemo/Miller...cakep sih Ok, tapi kerja di off shore masak putih begitu?! Raka?! Cocokan Surya Saputra. Aline?! Kurang bitchy deh. Rahmi? Aktingnya Sissy nggak usah diragukan, she is the best, cuma dari penampakan kurang tuaan. Apa karena aku udah ngebayangin Teh Icha yang jadi Rahminya, ya?! Hehehe.... Dan kota Bandung, bikin kangen terus. Tapi tetep okelah... ^,^ Empat bintang deh.

Labels:

|

Aku lagi kesel banget sampai ubun-ubun. Perang tarif telepon selular yang makin gila-gilaan ≠ customer satisfied. Secara logika, harga murah untuk mendapatkan pelanggan. Dan apakah perusahaan dapat mempertahankan pelanggan kalau pelayanannya buruk?!

Saya pengguna 2 brand kartu selular, Simpati dan XL. Saya pengguna XL sejak 2 tahun yang lalu. Belum terlalu lama dibanding pengunaan telkomsel (Simpati), sekitar 7-8 tahunan. Saya tidak akan membicarakan telkomsel (simpati) karena nggak ada masalah, saya PUAS dengan layanannya karena janjinya sesuai. Saya berlangganan XL karena mereka bukan provider yang hanya menjaring konsumen dadakan, tanpa ada motivasi mempertahankannya. Saya kira XL telah mendapat pelajaran dari iklan telepon gratis bebas di tahun 2003an, saat perpindahan dari exelcom menjadi XL saja. Presiden pun melarang, karena akan membuat error jaringan karena overloaded.

Sejak saat XL mengkampanyekan Rp 1,- / 1 dtk. Jaringannya SUCKS, nelepon di sesama kota aja butuh waktu minimum 30 menit supaya bisa nyambung, kebayang kan gimana kalau antar provinsi. Berapa banyak rupiah yang bakal melayang dengan jaringan komunikasi yang payah total? Harusnya kata-kata ’telepon yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa TAHUN lagi’....

Nggak jelas, strategi bisnis macam apa ini? That’s way nggak ada yang bisa melawan bombardir dari telkomsel. Selain mereka punya 3 brand, mereka juga menjaga kualitas, nggak ngasal.

Jadi, saya, beberapa rekan, keluarga sepakat nggak mau pakai XL lagi. XL really sucks!

Labels:

|


Free Blog Content

"

Zawa-BirthdayReminder

< <

"

the kite runner