Ini sepengal kisah tentang mama saya tercinta. Mama bernama Sunarni, panggil saja mama :p Beliau pensiunan PNS, lulusan fakultas hukum UNAIR (Bo’ anaknya nggak bisa kuliah di negeri...jadi malu akyu). Setelah pensiun mama lebih banyak melakukan pelayanan masyarakat. Yup, dijadikan ibu RW, padahal papaku bukan RW. Lho?! Kok iso?! Pak RW-nya bujangan, jadi ‘nyewa’ mamaku. Hehehe...
Saya tinggal di sebuah perkampungan, yang semakin tahun semakin buruk !_! padahal tahun-tahun dulu, jaman dipimpin walikota Purnomo Kasidi sampai Basofi Sudirman, bisa dibilang kampung percontohan. Akbar tanjung (semasa jadi menteri perumahan), Joop Ave (bener ya tulisannya gini?) Ampe ratu Belanda, Wilhelmina...pernah berkunjung. Tahun semakin tahun, banyak pendatang. Yang, entah karena kesibukan mereka ato karena memang orang modern yang tingkah lakunya primitif, kondisi kampung getting worse. Demi kebutuhan parkir mobil, tempat tanaman digusur jadi pavingan. Yang parahnya bangunannya tidak sesuai dengan aturan. Walhasil, kalo ujan ga bisa masuk selokan. Warganya, apalagi RT 9 & 10 muales kerja bakti !_! Padahal kita tidak tinggal di perumahan yang punya petugas kebersihan.
Bukan maksud nyombong yee...semenjak masa kepemimpinan mama, PKK di kampung dihidupkan, Posyandu kembali aktif, dan peringatan hari-hari besar kembali meriah. Saat serah terima jabatan, kampungku kondisi kas dan inventarisnya MINUS. Lha?! Padahal lumayan komplit lho. Alat posyandunya raib, alat karawitan ilang (sempat dilarang kebudayaan ini karena pada masa kepemimpinan RW SJ, karawitan dianggap bukan budaya Islam. Hah! Orang primitif. Padahal SJ guru lho), meja kursi ilang (konon RW lama jual), bahkan utang karena RW lama bikin pagelaran wayang kulit yang saat itu katanya sebagian dananya disponsori salah satu parpol yang sedang berjaya. Tapi kok ngutang?! Mama yang kebetulan bekas kabag kepegawaian JATIM punya koneksi. Dia minta bantuan DEPKES untuk menghidupkan kembali Posyandu. Kalo boleh heran, kehidupan ekonomi orang-orang kampung nampak glamour, ternyata anak balita mereka ada yang masuk kategori KEKURANGAN GIZI. Orangtuanya punya toko di JMP, pake gelang, kalung...tapi anaknya kekurangan gizi. OMG! Piye nggak kekurangan wong sehari2 (karena sibuk jaga toko) anaknya makannya bakso mulu ^_^’ Kader-kader PKK mulai aktif. Bahkan mama mempelopori pengolahan sampah takakura. Di rumah sejak pertengahan tahun kemarin (sejak masalah sampah di Surabaya mbundeli benernya, tapi aktif tahun kemarinan lah) memutuskan kalo dipisahkan antara sampah organik dan non-organik. Organik diolah pake takakura untuk jadi pupuk organik. Lumayan, pupuknya bisa diekspor ke rumah mbah yang punya tanaman kayak hutan. Sedangkan non-organik dikasihkan ke seorang pengepul (Emak Mi, namanya. Halo mak Mi =D). Karena debit sampah di rumah kami berkurang, tetangga nanya. Well, sekarang wabah takakura lagi in ditempatku. Agustusan kemarin ada lomba kebersihan lingkup RW. Ternyata partisipasi warga meningkat, lho. Untuk jangka panjang kami mau menang di tingkat Surabaya (AMIN!) ^_^
Tiap hari besar kita juga memperingati. Mulai dari agustusan, kartinian, hari ibu, tahun baru, dan halal bihalal. Dengan dana seadanya...acara meriah. Karena apa, dengan momen-momen kebersamaan ini warga jadi kompak, antusias, walau masih ada juga yang kelakuannya primitif. Nggak mengenal suku, ras, dan agama. Kami ngumpul bersama-sama.
Agenda selanjutnya, kami ingin menghidupkan kembali kesenian karawitan dan menata kembali yayasan pendidikan TK. Yup, kami punya TK lho. Udah sejak lama cuma karena KKN jadi manajemennya ya...manajemen kekeluargaan. Proses karawitan kini kami sedang berjuang di Depatermen Pariwisata supaya dibantu dan Untuk TK, kita sedang mengurus masalah hukumnya. Hidup Mama dan kader-kader PKK-nya. Dan yang paling-paling sedang diperjuangkan adalah kami ingin mengubah Surat Hijau menjadi SHM. Warga bersatu menyewa jasa pengacara untuk memperjuangkan itu. Karena apa aturan dari pemkot tentang surat hijau bertentangan dengan UU Agraria. Dan hanya di Surabaya saja aturan Surat hijau ini berlaku. Bisa dibayangkan berapa rupiah yang lenyap. Tidak hanya kami harus membayar PBB tapi kami juga membayar hak sewa ke PEMKOT. Hidup wakil rakyat! Duh, bapak...kemana aja euy! Sayang, ya kalau bela rakyat?! Huh, ngapain cape-cape ngurusin rakyat. Mending tutup mata, wong juga gaji dan uang slenteman banyak ;p Iya pak! Bener itu! Kerja cuma 5 tahun dapet pensiun. Bayangkan dengan guru-guru yang pernah ‘membesarkan’ bapak yang terhormat. Gaji bapak bisa jadi berlipat-lipat dari mereka yang kerja seumur hidup. Iya kan pak?! ;p nikmat bener ya...
Apa pun itu bukan sekedar perjuangan ini. Perjuangan masih panjang untuk diperjuangkan. Melawan orang-orang primitif dengan paradigma primitif akan amat sangat melelahkan. Karena orang-orang primitif biasanya bangsa barbar yang hati dan pikirannya telah membatu seperti fosil. SEMANGAT buat orang-orang yang mau melakukan pelayanan untuk rakyat ^_^ God Bless You All
Saya tinggal di sebuah perkampungan, yang semakin tahun semakin buruk !_! padahal tahun-tahun dulu, jaman dipimpin walikota Purnomo Kasidi sampai Basofi Sudirman, bisa dibilang kampung percontohan. Akbar tanjung (semasa jadi menteri perumahan), Joop Ave (bener ya tulisannya gini?) Ampe ratu Belanda, Wilhelmina...pernah berkunjung. Tahun semakin tahun, banyak pendatang. Yang, entah karena kesibukan mereka ato karena memang orang modern yang tingkah lakunya primitif, kondisi kampung getting worse. Demi kebutuhan parkir mobil, tempat tanaman digusur jadi pavingan. Yang parahnya bangunannya tidak sesuai dengan aturan. Walhasil, kalo ujan ga bisa masuk selokan. Warganya, apalagi RT 9 & 10 muales kerja bakti !_! Padahal kita tidak tinggal di perumahan yang punya petugas kebersihan.
Bukan maksud nyombong yee...semenjak masa kepemimpinan mama, PKK di kampung dihidupkan, Posyandu kembali aktif, dan peringatan hari-hari besar kembali meriah. Saat serah terima jabatan, kampungku kondisi kas dan inventarisnya MINUS. Lha?! Padahal lumayan komplit lho. Alat posyandunya raib, alat karawitan ilang (sempat dilarang kebudayaan ini karena pada masa kepemimpinan RW SJ, karawitan dianggap bukan budaya Islam. Hah! Orang primitif. Padahal SJ guru lho), meja kursi ilang (konon RW lama jual), bahkan utang karena RW lama bikin pagelaran wayang kulit yang saat itu katanya sebagian dananya disponsori salah satu parpol yang sedang berjaya. Tapi kok ngutang?! Mama yang kebetulan bekas kabag kepegawaian JATIM punya koneksi. Dia minta bantuan DEPKES untuk menghidupkan kembali Posyandu. Kalo boleh heran, kehidupan ekonomi orang-orang kampung nampak glamour, ternyata anak balita mereka ada yang masuk kategori KEKURANGAN GIZI. Orangtuanya punya toko di JMP, pake gelang, kalung...tapi anaknya kekurangan gizi. OMG! Piye nggak kekurangan wong sehari2 (karena sibuk jaga toko) anaknya makannya bakso mulu ^_^’ Kader-kader PKK mulai aktif. Bahkan mama mempelopori pengolahan sampah takakura. Di rumah sejak pertengahan tahun kemarin (sejak masalah sampah di Surabaya mbundeli benernya, tapi aktif tahun kemarinan lah) memutuskan kalo dipisahkan antara sampah organik dan non-organik. Organik diolah pake takakura untuk jadi pupuk organik. Lumayan, pupuknya bisa diekspor ke rumah mbah yang punya tanaman kayak hutan. Sedangkan non-organik dikasihkan ke seorang pengepul (Emak Mi, namanya. Halo mak Mi =D). Karena debit sampah di rumah kami berkurang, tetangga nanya. Well, sekarang wabah takakura lagi in ditempatku. Agustusan kemarin ada lomba kebersihan lingkup RW. Ternyata partisipasi warga meningkat, lho. Untuk jangka panjang kami mau menang di tingkat Surabaya (AMIN!) ^_^
Tiap hari besar kita juga memperingati. Mulai dari agustusan, kartinian, hari ibu, tahun baru, dan halal bihalal. Dengan dana seadanya...acara meriah. Karena apa, dengan momen-momen kebersamaan ini warga jadi kompak, antusias, walau masih ada juga yang kelakuannya primitif. Nggak mengenal suku, ras, dan agama. Kami ngumpul bersama-sama.
Agenda selanjutnya, kami ingin menghidupkan kembali kesenian karawitan dan menata kembali yayasan pendidikan TK. Yup, kami punya TK lho. Udah sejak lama cuma karena KKN jadi manajemennya ya...manajemen kekeluargaan. Proses karawitan kini kami sedang berjuang di Depatermen Pariwisata supaya dibantu dan Untuk TK, kita sedang mengurus masalah hukumnya. Hidup Mama dan kader-kader PKK-nya. Dan yang paling-paling sedang diperjuangkan adalah kami ingin mengubah Surat Hijau menjadi SHM. Warga bersatu menyewa jasa pengacara untuk memperjuangkan itu. Karena apa aturan dari pemkot tentang surat hijau bertentangan dengan UU Agraria. Dan hanya di Surabaya saja aturan Surat hijau ini berlaku. Bisa dibayangkan berapa rupiah yang lenyap. Tidak hanya kami harus membayar PBB tapi kami juga membayar hak sewa ke PEMKOT. Hidup wakil rakyat! Duh, bapak...kemana aja euy! Sayang, ya kalau bela rakyat?! Huh, ngapain cape-cape ngurusin rakyat. Mending tutup mata, wong juga gaji dan uang slenteman banyak ;p Iya pak! Bener itu! Kerja cuma 5 tahun dapet pensiun. Bayangkan dengan guru-guru yang pernah ‘membesarkan’ bapak yang terhormat. Gaji bapak bisa jadi berlipat-lipat dari mereka yang kerja seumur hidup. Iya kan pak?! ;p nikmat bener ya...
Apa pun itu bukan sekedar perjuangan ini. Perjuangan masih panjang untuk diperjuangkan. Melawan orang-orang primitif dengan paradigma primitif akan amat sangat melelahkan. Karena orang-orang primitif biasanya bangsa barbar yang hati dan pikirannya telah membatu seperti fosil. SEMANGAT buat orang-orang yang mau melakukan pelayanan untuk rakyat ^_^ God Bless You All







.

