<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=28179318&amp;blogName=The+Prima+World&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Flovelyprima.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Flovelyprima.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
♥The Prima World ♥
Tuesday, February 27, 2007

Ini sepengal kisah tentang mama saya tercinta. Mama bernama Sunarni, panggil saja mama :p Beliau pensiunan PNS, lulusan fakultas hukum UNAIR (Bo’ anaknya nggak bisa kuliah di negeri...jadi malu akyu). Setelah pensiun mama lebih banyak melakukan pelayanan masyarakat. Yup, dijadikan ibu RW, padahal papaku bukan RW. Lho?! Kok iso?! Pak RW-nya bujangan, jadi ‘nyewa’ mamaku. Hehehe...
Saya tinggal di sebuah perkampungan, yang semakin tahun semakin buruk !_! padahal tahun-tahun dulu, jaman dipimpin walikota Purnomo Kasidi sampai Basofi Sudirman, bisa dibilang kampung percontohan. Akbar tanjung (semasa jadi menteri perumahan), Joop Ave (bener ya tulisannya gini?) Ampe ratu Belanda, Wilhelmina...pernah berkunjung. Tahun semakin tahun, banyak pendatang. Yang, entah karena kesibukan mereka ato karena memang orang modern yang tingkah lakunya primitif, kondisi kampung getting worse. Demi kebutuhan parkir mobil, tempat tanaman digusur jadi pavingan. Yang parahnya bangunannya tidak sesuai dengan aturan. Walhasil, kalo ujan ga bisa masuk selokan. Warganya, apalagi RT 9 & 10 muales kerja bakti !_! Padahal kita tidak tinggal di perumahan yang punya petugas kebersihan.
Bukan maksud nyombong yee...semenjak masa kepemimpinan mama, PKK di kampung dihidupkan, Posyandu kembali aktif, dan peringatan hari-hari besar kembali meriah. Saat serah terima jabatan, kampungku kondisi kas dan inventarisnya MINUS. Lha?! Padahal lumayan komplit lho. Alat posyandunya raib, alat karawitan ilang (sempat dilarang kebudayaan ini karena pada masa kepemimpinan RW SJ, karawitan dianggap bukan budaya Islam. Hah! Orang primitif. Padahal SJ guru lho), meja kursi ilang (konon RW lama jual), bahkan utang karena RW lama bikin pagelaran wayang kulit yang saat itu katanya sebagian dananya disponsori salah satu parpol yang sedang berjaya. Tapi kok ngutang?! Mama yang kebetulan bekas kabag kepegawaian JATIM punya koneksi. Dia minta bantuan DEPKES untuk menghidupkan kembali Posyandu. Kalo boleh heran, kehidupan ekonomi orang-orang kampung nampak glamour, ternyata anak balita mereka ada yang masuk kategori KEKURANGAN GIZI. Orangtuanya punya toko di JMP, pake gelang, kalung...tapi anaknya kekurangan gizi. OMG! Piye nggak kekurangan wong sehari2 (karena sibuk jaga toko) anaknya makannya bakso mulu ^_^’ Kader-kader PKK mulai aktif. Bahkan mama mempelopori pengolahan sampah takakura. Di rumah sejak pertengahan tahun kemarin (sejak masalah sampah di Surabaya mbundeli benernya, tapi aktif tahun kemarinan lah) memutuskan kalo dipisahkan antara sampah organik dan non-organik. Organik diolah pake takakura untuk jadi pupuk organik. Lumayan, pupuknya bisa diekspor ke rumah mbah yang punya tanaman kayak hutan. Sedangkan non-organik dikasihkan ke seorang pengepul (Emak Mi, namanya. Halo mak Mi =D). Karena debit sampah di rumah kami berkurang, tetangga nanya. Well, sekarang wabah takakura lagi in ditempatku. Agustusan kemarin ada lomba kebersihan lingkup RW. Ternyata partisipasi warga meningkat, lho. Untuk jangka panjang kami mau menang di tingkat Surabaya (AMIN!) ^_^
Tiap hari besar kita juga memperingati. Mulai dari agustusan, kartinian, hari ibu, tahun baru, dan halal bihalal. Dengan dana seadanya...acara meriah. Karena apa, dengan momen-momen kebersamaan ini warga jadi kompak, antusias, walau masih ada juga yang kelakuannya primitif. Nggak mengenal suku, ras, dan agama. Kami ngumpul bersama-sama.
Agenda selanjutnya, kami ingin menghidupkan kembali kesenian karawitan dan menata kembali yayasan pendidikan TK. Yup, kami punya TK lho. Udah sejak lama cuma karena KKN jadi manajemennya ya...manajemen kekeluargaan. Proses karawitan kini kami sedang berjuang di Depatermen Pariwisata supaya dibantu dan Untuk TK, kita sedang mengurus masalah hukumnya. Hidup Mama dan kader-kader PKK-nya. Dan yang paling-paling sedang diperjuangkan adalah kami ingin mengubah Surat Hijau menjadi SHM. Warga bersatu menyewa jasa pengacara untuk memperjuangkan itu. Karena apa aturan dari pemkot tentang surat hijau bertentangan dengan UU Agraria. Dan hanya di Surabaya saja aturan Surat hijau ini berlaku. Bisa dibayangkan berapa rupiah yang lenyap. Tidak hanya kami harus membayar PBB tapi kami juga membayar hak sewa ke PEMKOT. Hidup wakil rakyat! Duh, bapak...kemana aja euy! Sayang, ya kalau bela rakyat?! Huh, ngapain cape-cape ngurusin rakyat. Mending tutup mata, wong juga gaji dan uang slenteman banyak ;p Iya pak! Bener itu! Kerja cuma 5 tahun dapet pensiun. Bayangkan dengan guru-guru yang pernah ‘membesarkan’ bapak yang terhormat. Gaji bapak bisa jadi berlipat-lipat dari mereka yang kerja seumur hidup. Iya kan pak?! ;p nikmat bener ya...
Apa pun itu bukan sekedar perjuangan ini. Perjuangan masih panjang untuk diperjuangkan. Melawan orang-orang primitif dengan paradigma primitif akan amat sangat melelahkan. Karena orang-orang primitif biasanya bangsa barbar yang hati dan pikirannya telah membatu seperti fosil. SEMANGAT buat orang-orang yang mau melakukan pelayanan untuk rakyat ^_^ God Bless You All
|
Sunday, February 25, 2007

Hmm...do u belive our lives is a grand design?...

Hidup itu benar2 misterius bukan? Sekarang (udah lama ngerasa ;p) hidup saya tak lepas dari itu semua. Kadang aku terbuat terkaget-kaget dengan kejutan yang diberikan gusti Allah. Sujud syukur, tak pernah lupa. Dia meletakkan semuanya disaat 'hati' ini telah dipersiapkan. Selamat menjemput mimpi indah ^_^

Aku memperhatikan semuanya. Inilah grand design...big skenario

PS: Doctor love, did u get it what i wrote?! Hahaha...sory, i wrote only in bahasa ^_^' Keep in contact brother
|
Monday, February 12, 2007

Angin sore berdesir bersua dengan matahari yang terbenam. Aku menarik nafas dalam-dalam, melepas rindu yang bertumpuk-tumpuk. Lalu lalang orang turun dari kereta api. Begitu juga aku, sibuk mengangkat koperku. Mencari becak atau andong untuk pulang ke rumah.
“Brakkk!!”
Tas koperku terlepas dari tanganku.
“Maaf!” Ujar pria itu.
Mata kami saling bertemu. Aku mengenal sosoknya.
“Terimakasih” Ucapku ketika koperku kembali lagi ke tanganku.
Aku kembali berjalan, dia pun kembali berjalan. Dengan arah yang saling berlainan.
*****
Sore hari menikmati wedang jahe dan pisang goreng buatan ibu sangatlah nikmat. Apalagi yang terhidang masih panas kepul-kepul begini. Cuaca yang dingin membuatku merapatkan jaket serasa menggegam erat cangkir berisikan wedang jahe. Semasa kecil aku pernah besar di tempat ini. Namun, kemudian bapak dipindah tugaskan di kota. Semenjak masa pensiun dan anak-anaknya semua mandiri, bapak dan ibu memutuskan kembali lagi ke tempat ini.
Di kejauhan mata memandang, gunung merapi menjulang tinggi, kokoh dan nampak gagah. Awan-awan memeluknya menambah suasana damai di sini.
“Sesiangan tadi saya tidur terlampau lelap. Udaranya dingin, enak buat bobokan”. Ujarku pada ibu.
“Bukan cuacanya yang dingin, kamunya saja yang kecapekan”. Ibu membelai rambutku.
Rasa hangat langsung menghinggapi hatiku.
“Di Jakarta ya gitu itu, bu. Kerjaannya dari pagi sampai larut malam”. Ujarku sambil memakan pisang goreng.
“Kapan lagi kamu bisa istirahat kalau ndak saat pulang ke rumah” Bapak ikut nimbrung dari dalam.
“Hari pertama memang dihabiskan buat tidur dulu. Kan, pulang gini untuk kangen-kangenan sama bapak, ibu...sekalian buat istirahat”.
“Walah, iya memangnya ya!”
Adzan magrib mulai terdengar sayup-sayup dari langgar dekat rumah. Bapak, ibu bersiap-siap sholat magrib berjamaah. Aku juga ikut mereka berjalan ke langgar.
*****
Keesokan paginya aku ikut ibu ke pasar. Membeli jajanan pasar.
“Jeng?!” Ibu disapa oleh seorang ibu. Kalau tidak salah bu Prawiro. Mereka berdua larut dalam percakapan.
“Lagi liburan?” Tanya seseorang yang membuatku kaget.
Aku menoleh. “He-eh. Mau gethuknya?” Aku menawarkan gethuk padanya.
Dia menggeleng.
Dia Galang Prawiro, anak si ibu yang sedang bercakap-cakap dengan ibuku. Lebih tepatnya, orang yang menabrakku di stasiun. Aku tidak mengenal dirinya, hanya sekedar tahu sosok Galang Prawiro, anaknya pak Prawiro dan bu Prawiro.
“Berapa lama liburan?” Tanyanya.
“Cuma seminggu, kok”.
“Uhm, kita belum kenalan. Galang!”
“Ayu!... Uhm, kita nggak usah salaman ya? He he he...tangan saya kotor”. Tanganku belepotan gethuk.
“He he he...” Galang ikutan tertawa, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.
“Beneran nih, kamu nggak mau gethuknya? Enak lho!” Mungkin Galang udah tahu kalau gethuk ini enak, bisa dilihat dari ekspresiku yang rakus.
“Jangan bilang-bilang, aku tadi sudah makan dua bungkus”. Bisiknya.
“Ha ha ha...” Aku menahan geli.
Galang duduk di sebelahku, memandang merapi. Aku masih makan dan ibu-ibu kita sedang berbincang-bincang.
Setelah selesai, aku membuang bungkusan daun pisang dan mencuci tanganku di tempat bakul gethuk itu.
“Eh, mau kemana?” Tanya Galang.
“Mau pulang!”
“Nggak nunggu ibumu dulu?”
“Nggak deh”. Aku kembali berjalan dan berpamitan sama ibu, juga sedikit berbasa-basi dengan bu Prawiro.
Galang juga ikut-ikutan pulang. Membuntutiku.
Aku berhenti dan berbalik, “Ngikutin aku?”
“Uhm...ya dan tidak”.
Aku mendelik.
“Saya bosan juga nunggu di bakul gethuk”. Dalihnya.
Akhirnya kami berjalan pulang bersama.
“Nggak mampir dulu, Lang?” Tanyaku.
“Nggak deh, saya janjian mau mancing”.
Aku mengangguk-angguk. Galang berpamitan, lalu aku masuk ke rumah.
*****
Galang Prawiro. Aku mengetahuinya semenjak masih kanak-kanak. Dulu, tubuhnya pendek, lebih tinggi aku malah. Kami tidak pernah berteman. Karena dia memang lebih tua daripada aku, dan anak laki-laki tidak suka bermain dengan anak perempuan. Kemudian kepindahan kami ke Jakarta membuat tidak tahu kabar beritanya, sampai tiga tahun yang lalu, ayah, ibu menetap kembali di sini.
Tiap tahun tanpa sengaja kami selalu bertemu. Di stasiun, di pasar, di pematang sawah, bahkan di sungai. Tak pernah bercakap-cakap hanya bertatap muka dalam diam. Sekali-kali mengangguk atau tersenyum. Penghormatan terhadap tetangga. Tadi, pertama kalinya kami bercakap-cakap.
*****
“Ayu!” Panggil Galang.
Aku sedang memotret. Puncak merapi tidak nampak hari ini.
“Hai, darimana Lang?”
“Dari waduk cari ikan”.
“Hobi ya...kamu mancing?”
“Aku terbiasa di udara, tapi aku menyukai air”. Jawabnya sambil menatap ke langit.
Aku ikut-ikutan memandang langit. Hanya awan yang bergelantungan.
“Saat terbang membelah langit, awan-awan berjalan melewati kita”.
Aku belum bercerita. Galang seorang pilot.
“Hahaha...dasar pilot. Pasti ceweknya dimana-mana”. Aku menggodanya.
Galang mengambil tempat di sebelahku. “Setiap kota?! Uhm...yeah...many girls but few dating”.
Aku menyeringai.
“Sebentar lagi akan hujan”. Ujarnya.
“Ih, cerah begini juga”. Aku tidak percaya. Aku beranjak dari tempat dudukku dan kembali memotret.
“Enak yu jadi editor?”
“Uhm...lumayan”. Ucapku masih asyik memotret hamparan padi.
“Kerja kayak kamu ketemunya orang-orang ganteng dan cantik, plus wangi”.
Aku membidikkan kamera ke arahnya. Mengambil shoot satu, dua kali.
“Hai...orang kucel gini kok dipotret”. Protesnya.
“He he he...” Aku duduk lagi di sampingnya. “Yah, gitu deh. Most of them orang-orang yang ganteng, cantik, wangi, bahkan fashionista.
“Cover depan siapa?” Tanyanya.
“Nagita Sekar. Kalo nggak ada perubahan”.
“Wuih, bintang iklan sabun itu to?!”
Aku mengangguk. Angin berhembus dingin.
“Ckk..ckkk...ckk...pasti cantik banget?!” Dia sepertinya membayangkan sesuatu.
“Hmm...nggak cuma cowok. Aku aja dibuat ngiler. Kulitnya putihhh...mulus tanpa cela”
“Kapan-kapan aku main ke kantormu ya?”
“Ngapain?! Mau casting jadi model?” Aku menggodanya.
“Boleh...boleh...siapa tahu cah ndeso bisa jadi model”. Dia ikutan tertawa.
Tiba-tiba awan jadi gelap. Satu, dua tetes air hujan mulai turun.
“Wuahh...hujann!!” Seruku panik.
“Apa aku bilang!” Dia meleletkan lidahnya.
Aku tak peduli. Berlari mencari tempat berteduh. Dia mengikutiku mencari tempat berteduh. Untung di dekat situ ada gubuk penunggu sawah pak Karto.
“Duhh...jadi basah deh!” Gerutuku kesal.
“Apa aku bilang. Kamu nggak percaya sih!” Dia mengibas-ibaskan rambutnya hingga airnya muncrat-muncrat.
“Ih! Galang jorok! Basah semua tahu!” Aku merenggut mencubit lengannya.
“Ha ha ha... si fashionista nggak mau basah”. Saat tertawa aura charming Galang nampak.
Ada yang berdesir di relung hatiku.
Aku membuang muka, takut salah tingkah.
“Kok tahu sih, kalau mau hujan?” Tanyaku mengalihkan perhatian.
“Tadi ada awan gelap, dan angin bertiup kemari”. Terangnya.
Aku memiringkan kepala, “Ooo...”. Lalu manggut-manggut. “Naluri pilot, ya?!”
Dia tertawa. “Mudah-mudahan nggak lama hujannya”.
“Jangan dong”. Batinku dalam hati.
“Laper soalnya!”
“Ha ha ha...” Aku tertawa.
Mata kami saling bertemu. Desir itu kembali lagi kini mulai terkunci.
“Dueerrr!!!” Suara petir mengangetkan.
“Eh, copot-copot-copot!” Aku berteriak kaget.
“Ha ha ha...” Galang tertawa.
Aku bersemu-semu merah.
*****
Matahari menerobos masuk melalui celah-celah kelambu. Pukul enam pagi. Aku malas bangkit. Selepas liburan membuatku malas untuk kembali ke rutinitas sebelumnya. Ke kantor, deadline, wawancara, liputan, omelan bos. Akihirnya aku menyerah. Bangkit juga dari tempat tidur untuk bersiap-siap ke kantor. Kembali lagi ke aktifitasku sebelumnya.
*****
Kerjaan menumpuk di meja. Tengah hari tiba-tiba ada sms masuk.

Hi, pa kbr? Jgn lupa makan siang –Galang-

Aku sempat terbengong sejenak. Sms dari Galang menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan siang.
Replay

Baik. Kamu? Yup, ini mau berangkat lunch

Sending message
Massage sent

Tak lama kemudian ada satu pesan masuk. Dari Galang kembali.

Baik2 jg. Mau terbang ke Sby ntar jam 13.30
Replay

Ooo...Hati2 ya pak!

Sending message
Massage sent

Aku bangkit dari tempat duduk untuk makan siang.
*****
Jumat malam, aku dan Icha mampir dulu ke cafe sehabis nge-gym. Jumat malam tentu saja suasana cafe sangat rame. Di salah satu pojok ada ibu-ibu yang sedang narik arisan. Di sisi lain ABG-ABG sedang asyik bergerombol lalu tertawa keras.
“Lama nggak nge-gym badan kayak mau rontok nih”. Celoteh Icha.
Aku tersenyum sambil menyeruput teh cammomileku.
“Ayu?!” Sapa seseorang.
Aku menoleh. Ternyata Galang.
“Hai...” Sapaku.
Icha menatap kagum sosok Galang. Sosok itu tinggi ramping dengan dada bidangnya. Senyumnya menawan menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
“Kenalin, ini sobatku Icha. Icha, ini Galang”.
“Oh...hai Galang”. Icha tersenyum ramah mengajak berjabat tangan Galang.
“Oke, aku keburu-buru, nih! Keep in contact ya”. Ucap Galang seraya mencium pipiku lalu melambai ke arah Icha.
“Dag...dag!” Icha membalas lambaian tangannya.
Setelah Galang benar-benar menjauh.
“Siapa dia Ayu?!” Intrograsi Icha.
“Tetangga di kampung”. Jawabku sambil kembali menyeruput teh cammomileku.
“Akhirnya ada juga, anak-anak merapi yang rupawan”.
“Ngawur!” Aku melempar tisue ke arah Icha.
“He he he...lu kan temen gue, nggak mungkin juga dipuja-puja”. Icha meleletkan lidahnya.
Aku cuman nyengir.
“Model?!”
“Siapa?! Galang?...Bukan, dia pilot”.
“Pantes, so charming gitu, lho!”
Aku tersenyum mendengar komentar Icha.
“Emang lu nggak naksir dia? Kayaknya dia naksir lu”.
“Udah deh. Hipotesis jadul!” Protesku.
Icha mengangkat bahunya, “Who knows...”
*****
Minggu pagi. Setelah jogging, ini waktunya bersih-bersih rumah. Sebersit bayangan Galang melintasi pikiranku. Aku mengambil Handphone. Berniat mengiriminya sms. Begitu aku mau menekan nomor, sebuah nomor tertera di lcd hp-ku.
+6221 something.
“Hallo...Ayu”. Suara Galang terdengar di seberang.
Nyaris saja ponsel itu meluncur dari genggamanku.
“...Ayu...?”
“Oh, hai...” Ucapku begitu sadar dari kebingungan.
“Hari ini mau ngapain?”
Aku langsung meng-skip jadwal bersih-bersih rumah. “Nggak ngapa-ngapain”.
“Uhm...mau nonton, nggak?”.
“Uhm...well...uhm...boleh deh”. Jawabku akhirnya.
“Aku jemput ya?! Alamat rumahmu?”
“Jalan iklan gurame blok B no. 12, Puri Tirta. Tahu kan tempatnya?”
“Iya-iya, tahu kok”.
“Jam berapa mau jemput?”
“Jam tujuh, ya?”
“Oke”.
“See ya...”
“See yaa...”
Aku jadi panik sendiri. Hah, nanti malam aku akan kencan dengan Galang. Aku buru-buru lari ke kamar.
“Uhmm...”dengungku di depan lemari.
Aku keluar lagi ke kamar mandi, buru-buru balik lagi ke kamar.
“Yu, perutmu sakit?” Teriak Icha dari dalam kamar.
“Ngg...Nggakk kok Cha”, Balasku dengan teriakan juga. “Gubrakk!” Aku menyenggol kosmetiku hingga jatuh berantakan.
“Tuh, kan...?!” Kali ini Icha sudah nonggol di pintu kamarku.
Aku tak menjawab, tanganku sibuk merapikan kembali alat-alat kosmetikku yang berantakan.
Icha hanya berdiri memperhatikanku.
“Oke, aku mau ngedate sama Galang”. Ucapku girang. Tak tahan menahan luapan kegembiraan ini sendirian.
Icha mengangga lebar. “Sumpeh lu?! Ha ha ha...cie...jadi mau ngedate neh...” Icha mengerlingkan matanya.
Tak terasa aku melewati beberapa kali kencan dengan Galang. Galang adalah orang yang luar biasa. Matanya yang sayu menyerupai bulan sabit, seakan-akan menyimpan ribuan misteri. Ini yang membuatku tersedot masuk ke dalamnya lingkaran pupil hitam yang berbinar-binar.
*****
“Tok...tok...tok...” Pintu kamarku diketuk.
“Hai, gue bawain donat kesukaan lo nih”. Icha mengansurkan sekotak donat.
“Thank you. Enak banget pastinya”. Aku mengambil satu. “Hmmm...” Seruku setelah gigitan pertama.
“Weekend nggak keluar sama Galang?” Tanya Icha.
“Lagi terbang orangnya”.
“Ooo...btw, emang kalian udah jadian?”
“Ha ha ha...nampaknya?!”
“I’m bad in guessing”.
“Nggak...nggak ada deep relationship”.
“Maksudnya?!”.
“Don’t know. I don’t think so gain a relationship with him is a good decision. Even...aku naksir berat...Ha ha ha...”
“Nah lo...tunggu apa lagi?”
Aku menggendikkan bahu dan kembali memakan donatku.
*****
“Ayu...”. Seru Galang.
“Apa?!”
“Aku seneng banget bisa kenal kamu. Kamu perempuan yang komplit. Kamu...perempuanku...,”
“Maksudnya?” Aku memotong ucapan Galang.
“Kita sudah berjalan cukup lama. Aku ingin...kita memiliki tingkat hubungan yang lebih dari sekedar teman”.
Deg! Aku tak menyangka, hari ini Galang akan menyatakan cintanya. Aku suka dan mengagumi dia. Tapi ntah...ada sesuatu yang...yang membuatku tidak ingin menjawabnya.
“Yu, gimana dong?”
Aku tersenyum, “Let me think”
“Oke”. Jawabnya. “Jawab dua hari lagi ya...”
“Kenapa dua hari lagi?” Tanyaku.
“Itu ulang tahunku”.
“Ooo...iya deh...Ha ha ha...”
Galang pamit. Aku tersenyum geli. Kenapa juga kami kayak ABG. Sudahlah, toh aku menikmati keindahan ini.
*****
Aku bangun pagi dengan ceria. Ini harinya, nanti malam...ini harinya. Aku sudah seperti ABG kecentilan. Senyum-senyum sendiri. Ha ha ha...cinta memang gila.
Begitu turun, kulihat Icha termangun di meja makan. Pandangannya kosong. Di hadapannya ada secangkir teh yang tinggal separuh.
“Ada apa, Cha?”
Icha menunjuk-nunjuk ke arah layar televisi. Di televisi orang-orang berkerumun di pinggir sungai. Sementara reporter sedang menyampaikan laporannya.
“Menurut saksi mata, pesawat Indo Air IA-193 jurusan Jakarta-Singapore meledak sekitar pukul lima pagi tadi di atas sungai Musi. Jumlah penumpang 130 orang, termasuk enam cabin crew dan dua cockpit crew yang dikepalai oleh pilot kapten Galang Prawiro dinyatakan tewas. Sampai saat ini aparat....”
Aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Semuanya berputar dan menjadi gelap.
*****
Tiga puluh hari sudah berlalu. Pemakaman Galang dilakukan tanpa sesosok jasad. Tak satupun jasad para penumpang ditemukan. Mungkin karena pesawatnya yang sempat meledak, hingga jasadnya berkeping-keping. Aku justru punya pemikiran lain. Jasad Galang tidak ditemukan karena kemisteriusan sungai Musi.
Kemegahan Sriwijaya, kerajaan Budha terbesar di kepulauan Nusantara. Kerajaan yang terletak di sekitar sungai Musi yang di dirikan pada abad ke-7. Pada masa keemasan Raja Bala Putra Dewa, banyak pedagang yang mengunjungi daerah yang sekarang disebut Palembang. Sekitar tahun 672, seorang Budha, bikhu dan pemikir dari Cina, I-Tsing menuliskan bahwa ribuan pemuka agama Budha yang disebut bikhu, rahib atau pun lama, banyak yang berbondong-bondong ke Sriwijaya guna menimba ilmu. Karena di Sriwijaya terdapat perguruan tinggi agama Budha dengan kuliah bahasa sansekerta dan bahasa jawi (jawa kuno). Pujangga Sriwijaya yang terkenal adalah Dharmapala, Sakyakirti, dan Vajabudhi.
Akhir abad ke-13, Sriwijaya runtuh akibat serangan bertubi-tubi. Terjadinya pemisahan negara penghibah upeti adalah awal melemahnya pertahanan kerajaan ini. Lalu muncul serbuang massal oleh kerajaan India Selatan, Cola dan kerajaan Majapahit. Akhirnya Sriwijaya takluk oleh armada bajak laut Cina. Akhirnya setelah snggah sementara, gerombolan ini justru tunduk kepada kerajaan Majapahit, di bawah pimpinan Raja Adityawarman dari kerajaan Melayu.1
Aku percaya semua di bumi ini memiliki auranya sendiri. Sesuatu yang tidak bisa diraba oleh ketajaman penginderaan manusia, sesuatu yang hidup di sisi lain dunia.
Entahlah, hingga detik ini setiap malam...Galang selalu mendatangi mimpiku. Aku percaya empat puluh hari roh-nya masih bersama kita. Tiap tangisan-tangisanku aku seperti merasakan kehangatan membelaiku. Aku tidak menyangka ini semua berakhir seperti ini. Galang seorang pilot yang jasadnya terkubur di dalam sungai Musi. Dia selalu ada di udara tapi dia menyukai air. Karena itukah jasadnya memilih tinggal di dalam sungai Musi?
Di hari keempat puluh, aku mendatangi tepi sungai Musi. Tim SAR masih mengupayakan pencarian jenazah. Aku sendiri tidak ingin jasad Galang ditemukan. Biarlah menjadi Galang dengan wajah rupawan yang pernah kukenal. Aku melarungkan seikat bunga matahari dan berdoa untuk ketenangan arwahnya.


Kalo aja...aku masih punya kesempatan yang sama
Atau...semua yang pernah terjadi bisa terulang lagi
Tapi ternyata...kesempatan yang ada...hanya sekali
Sampai kini masih kutunggu datangnya keajaiban
Yang mungkin saja bisa memberiku waktu satu kali lagi
Seandainya masih bisa kudapatkan
Sekali lagi...satu kali lagi.

Masih tertunda dan belum semua kukatakan
Biar kutunggu sampai kau kembali lagi di sini
Harus kau dengar semuanya harus kau dengarkan
Isi hatiku yang belum...kusampaikan

Ooo...ternyata tak semudah itu keingin bisa terjadi
Tapi...ku berharap semoga masih ada kesempatan...sekali lagi.. (Ipang-Sekali lagi).

“Galang, apa kabar?” Tanyaku dalam hati. “Maafkan aku malam itu. Seandainya...seandainya ada satu kali lagi kesempatan, aku ingin mengatakan...aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Kamu mempesona lahir batin bagiku. Selamat tinggal Galang, beristirahatlah dengan tenang”. Aku bangkit dan meninggalkan tepi sungai Musi.


Masih tertunda dan belum semua kukatakan
Biar kutunggu sampai kau kembali lagi di sini
Harus kau dengar semuanya harus kau dengarkan
Isi hatiku, tentang hatiku

Masih tertunda dan belum semua kukatakan
Biar kutunggu sampai kau kembali lagi di sini
Harus kau dengar semuanya harus kau dengarkan
Isi hatiku yang belum...kusampaikan (Ipang-Sekali Lagi)

“Ciiitttttt....” Deru rem mobil berdecit. “Brakkkkk!!!”
Aku terlempar jauh.
“Galang...” Ucapku begitu melihat sosoknya.
“Kembalilah Ayu. Semua masih menunggumu. Biar kutunggu sampai kau kembali lagi di sini. I love you”. Ucapnya dan kemudian menghilang.
“Galang....!!” Teriakku lirih. Aku menangis.
Puluhan orang mengelilingiku. Sirine ambulan, langit palembang, dan tentu saja Galang dan sungai Musi.
*****
1.Atap-Fira Basuki
|
Saturday, February 10, 2007


Udah liat film I love you, Om?... Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa juga nonton VCD-nya. Tema yang super nggak biasa. Mengangkat aspek psikologi, bukan drama populer. Akting para pemainnya bagus, apalagi buat Rachel Amanda (two tumbs up girl!) Desain interiornya jempol banget. Jadi aspirasiku buat make over kamar :p Sebenarnya cerita I love you, Om nggak cuma mengangkat cinta ‘terlarang’, tapi ada juga pesan moral yang menurutku kena banget buat aku. Di sekitar kita –Orang-orang yang nampak normal- tidak selamanya seperti yang nampak dipermukaan. Aku kadang hanya menilai kulit luarnya saja. Kenapa aku bilang begitu, Om Gaza (Restu Sinaga) tampangnya sangar, tatoan banyak, Si guru balet yang nampak straight...ternyata lesbian. Kita nggak akan tahu seseorang sampai mendalam walaupun itu orang-orang yang tiap hari kita temuin, bahkan pasangan kita sekalipun.
Di I Love you, Om. Dion (Rachel Amanda), 12 tahun, mengalami cinta pertama. Bukan dengan Davi, teman yang seumuran dengan dia, tapi memilih jatuh cinta dengan om Gaza. Btw, yang jadi Davi cakep banget. Cempluk tapi imut. “Davi mau sama tante?” ;p ha ha ha....


Cinta memang tanpa mata
Hebatnya cinta...butakan siapa saja
Memang cinta tak peduli
Semuanya bisa...bisa saja jatuh cinta (BIP)


Jadi ingat saat SMP aku pernah naksir cowok. Namanya MHLP (Singkatan, nggak enak nyebut nama orang ;p). Apa yang dirasakan Davi pernah aku rasakan. Papasan di koridor sekolah aja jantung mau copot, terus di perut ada kupu-kupunya. Liat dia main bola, rasanya tubuh ini lemas meleleh. Padahal kita nggak pernah kenal. Mungkin dia (juga) nggak tahu aku pernah ada. Norak banget deh! Beraninya liat aja dari jauhhh....ha ha ha.... Setelah kenalan (jaman SMA)...ternyata yang dulu bikin aku jatuh cinta itu ‘khayalan’. Sosoknya nggak seperti itu. Well, itu cinta pertama saya. Gimana cinta pertamamu? ^_^

Ada satu film lagi tentang cinta pertama, judulnya Little Manhattan. Saya tertawa ngakak liat film itu. Seperti itulah orang dewasa melihat ABG jatuh cinta. Lucu...ha ha ha...tapi jangan diketawain, karena itu proses. (Kata adekku yang kuliah psikologi siy =D


Cinta mungkin buta
Tapi kita punya mata
Cinta tidak bersahabat dengan rasio
Tapi mata mampu bersahabat dengan rasio
Selamat jatuh cinta ^_^
|
Friday, February 09, 2007



I do swear that I ll aways be there.
I d give anything and everything and I will always care.

Through weakness and strength, happiness and sorrow,
for better or worse, I will love you with
every beat of my heart.
From this moment life has begun
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong

From this moment on
From this moment I have been blessed
I live only for your happiness
And for your love I d give my last breath

From this moment on
I give my hand to you with all my heart
Can t wait to live my life with you, can t wait to start
You and I will never be apart
My dreams came true because of you
From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn t give
From this moment on
You re the reason I believe in love
And you re the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
My dreams came true because of you
From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
From this moment
I will love you as long as I live
From this moment on

You know...i really miss him. Aku nggak tahu, dulu jaman kita kuliah kita juga jauh-jauhan tapi...rasanya nggak semenyiksa ini. Mana aku jadi parno dengan pesawat ^_^'
From this moment.....Hanya saja yang perlu kamu tau I don't know what the answer and i don't know how it will end, but i know i love you and i miss you. Taking care your self! Let's meet soon
|


Free Blog Content

"

Zawa-BirthdayReminder

< <

"

the kite runner