<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=28179318&amp;blogName=The+Prima+World&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Flovelyprima.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Flovelyprima.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
♥The Prima World ♥
Wednesday, January 31, 2007

Perjalanan baru terlewati semasa, masih panjang, masih banyak berjuta kejutan, harapan yang teruntai dan menanti di depan. Semuanya adalah berkah Allah, Maha pencipta. Tanpa disertaiNya aku tak berarti. Semoga rangkaian mimpi indah menjadi nyata.
Oke, semua orang cinta love story, cinderella story, dibuai mimpi adalah naluri manusia tetapi ketika kaki menginjak ke bumi, hah...susah dijelaskan. Saya tipikal penghayal tingkat tinggi, pasangan saya lebih menginjakkan kaki di bumi. Kita saling mengisi. Coba kalau saya tidak ada dia, saya pasti limbung di awang-awang tanpa ada yang narik dari bumi.
Kemarin ada berita mengejutkan. Pak Sumarno dosen mata kuliah bahasa Indonesia, meninggal dunia karena dibunuh. Ckk...saya nggak kenal banget, tapi ngikutin mata kuliahnya dia, lumayan menghibur. Ada indikasi anak asuhnya yang melakukan. Hah! Batas antara perilaku kemanusiaan dan kehewanan menjadi sangat tipis. Mencabut nyawa seolah-olah menjadi suatu pembenaran. Entahlah....konflik yang tak ada habisnya.
Okelah, sekian update nggak penting ini. CYA
|
Sunday, January 28, 2007

Hah! Aku diberi kesempatan Tuhan untuk menikmati kesempatan masuk tahap 3 proses seleksi BDP. Ini masih sebuah perjalanan panjang. Aku takut. banyak ketakutan, tentang semua proses ini nanti. Tapi saya percaya, Tuhan telah kasih design yang benar-benar terbaik baik saya, akang, dan keluarga. Sertai saya Tuhan dalam perjalanan panjang ini!

Long road to heaven. Cukup berani, seimbang, dan berusaha menyentuh sisi kemanusiaan. Cuma beberapa pemainnya kurang mumpuni, baik dari gaya bicara dan bahasa tubuh. Dan mungkin dengan alur maju mundur, emosi dan gregetnya kurang dapet. Moral dari pesan ini adalah, kemarahan tidak akan selesai dengan kemarahan. Semua di dunia ini berpasangan. Ada hitam-putih, tinggi-rendah, dan pastinya baik-buruk. Semuanya pada suatu titik adalah keseimbangan. Banyak pertanyaan di film itu. Is there any short cut go to heaven? Can we call it a holy war? Don't know God. Tuhan maha segalanya dan maha suci.

Have nice weekend for everyone! Good luck
|
Thursday, January 25, 2007


In my mind is maried disaster or grace?!
Setiap saudara sepupuku akan menikah, pasti ada setumpuk drama yang...come on, make me getting sick. Oke, I’m blind at all about wedding. But one think (i hope all of you agree with me) when the people became one, each other should feel comfortable. Bukan sebaliknya, konfrontasi diam-diam, kan?!


Aku belum memikirkan pernikahan, tapi aku juga tidak menentang atau berpikir apriori tentang pernikahan, jadi jangan menghakimiku kalo aku penganut feminisme. No! Suatu saat nanti saya pasti akan bersedia mengubah seluruh hidupku untuk kebahagian ever after. Dalam pikiran idealku, ketika kita menikah, kita harus menemukan orang yang kita idamkan sekaligus kita butuhkan. Kita idamkan, tentu saja dari list kriteria panjang yang kita sendiri yang tahu, kedua...kebutuhan. Kalau kebutuhan, hanya Tuhan yang bisa mengerti. Hindarkan sebuah angan-angan, pilih orang yang super duper memuja kita, meskipun kita tidak merasa begitu mencintainya, jauhkan anggapan cinta akan hadir kemudian. Come on...ini bukan tahun 1950. Jaman orang matrealistik, tidak bermoral, dan lebih buas dari hewan, belum sebanyak sekarang. Dan yang paling-paling saya hati-hati adalah sifat keduniawian. Fisik, materi, penting, tapi bukan yang paling penting. Jadi muaranya, hati-hati! Orang yang anda nikahi tidak ada garansinya dan barang yang sudah anda beli tidak dapat ditukar! Tapi kan kita manusia, punya ekspektasi, angan-angan yang sadar atau tidak, ingin semuanya menjadi kenyataan. Itulah! Sampai sekarang belum tahu jawabannya.
Kembali lagi, apa tandanya orang siap melakukan wedding? Uhm, di mataku setiap ada orang menikah, saya rasa tidak pernah ada yang siap. Aku menyebutnya misteri misterius. Oleh karena itu, sepupu saya menjadi drama queen. Usia bukan patokan. Yang jelas (menurut aku lagi sih) Mental dan Materi. Idealnya, udah punya rumah sendiri (uang berdua ye..jgn salah satu pihak), seluruh kehidupan tidak boleh tersentuh orang tua lagi (baik sebelum,apalagi sesudah pernikahan), obsesi pribadi ditamatkan, terbahas tuntas semua masalah yang menyangkut bersama, list komitmen jelas, kontrak seumur hidup jelas merasa nyaman dengan pasangan dan siap dengan konsekuensi pernikahan (yang terakhir yg paling berat kuakui). Kalo ada pertanyaan, tapi kan ini Indonesia, orangtua berhak ikut campur? Ya, terserah. Berbakti pada orang tua adalah harus, tapi memperbolehkan orangtua mencampuri urusan pribadi kita, NO WAY! Orang tua ngasih masukan oke, tapi mendikte...DON’T GET MARIED. Tetep aja jadi their sweet girl ever. Termasuk urusan finansial. Nggak kasian, setua itu masih dilimpahi pikiran tidak menenangkan.


Mudah-mudahan semua konsep yang ada di otakku tidak berbalik arah dan membunuhku. Menemukan soulmate bukan perkara mudah. Dan semoga bagi anda yang akan menikah atau telah menikah, diberkahi Tuhan dengan cinta yang tak bersyarat ^_^
|
Tuesday, January 23, 2007





Sudah hampir tengah malam, namun aku masih melakukan suatu hal tidak jelas. Aku kini tengah duduk di kursi plastik di dalam ruang administrasi sebuah pabrik yang setengahnya nampak gelap gulita. Dari kaca di hadapanku, aku bisa melihat ruang produksi dengan mesin-mesin yang bayangannya menyerupai raksasa. Aku berada di dalam pabrik bedding yang memproduksi bantal, guling, kasur, bed cover, dan semacamnya, aku tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk dan di tanganku ada secangkir kopi yang sudah setengah dingin.
Apa yang tengah kulakukan saat ini demi sahabatku tercinta, Sabrina. Sebulan ini dia menjadi terobsesi dengan bantal. Iya, bantal. Sebuah barang berbentuk persegi panjang, empuk, dan alas kepala kita saat tidur. Hah! Aku pasti sudah ikut-ikutan gila dibuatnya.
“Gimana?!” Tanyaku pada Sabrina begitu dia muncul kembali di ruang administrasi.
Dia menggeleng cepat, “Not yet!”
Aku menghela nafas panjang. Satu malam yang sia-sia.
“Oke, kita pulang yuk!” Serunya enteng. Seolah jam-jam yang telah kita lalui hanya luncuran menit yang tak berarti.
Aku meletakkan cangkir kopiku di atas meja dan mengikuti dia keluar dari pabrik yang gelap gulita ini.
Satu lagi kegilaan yang tidak bisa dinalar akal sehat. Kami berdua memecah jalanan di pagi buta. Seperti malam ini, di malam hari kerja, aku keluyuran untuk sebuah obsesi. Hah! Kenalkan, aku Fariza. Biasa dipanggil Riz.
*****
Kalau kalian bertanya, ada apa dengan Sabrina dan bantal? Don’t know. Semua ini bermula dari gejala insomnia Sabrina yang akut. Dia tidak bersedia mengkonsumsi obat tidur yang diresepkan dokter padanya. Dia tidak percaya pada kemampuan bahan-bahan kimia bisa membuat saraf-sarafnya rileks sehinga membuat dirinya terlelap tidur. Dia percaya, bahan kimia hanya akan membuat tubuhnya teracuni. Akumulasi dalam jangka panjang justru akan membunuh dirinya perlahan-lahan. Alasan yang cukup masuk akal.
Lalu?! Beragam alternatif non medis telas dia jajal. Yoga dan meditasi, hipnoterapi, akupuntur, sampai datang ke ‘guru spiritual’ yang konon bisa menentramkan jiwanya. Namun semuanya itu nihil. Nol besar!
Pertanyaan yang selalu diajukan oleh para ahli tersebut, “apakah anda stres?” 100% Sabrina menjawab tidak. “Apakah beban pekerjaan atau hidup anda terlalu berat?” What? Pekerjaan? Uhm....Sabrina Van Cook, pewaris tunggal jaringan hotel Roos. Hotel nomor satu di asia tenggara. Uang bukanlah masalahnya. Oke, dia punya bisnis sendiri, “Pet House”, semacam SPA dan home care buat anjing, kucing, dan reptile. Walaupun usaha label itu milik sendiri, terlepas dari jaringan Roos, namun Sabrina hanya datang sesekali untuk memeriksa account bisnisnya. Sisanya, dikerjakan oleh orang-orang profesional. Selanjutnya, hari-harinya akan dihabiskan dengan hinggap dari satu butik ke butik yang lain, nyalon, menghabiskan waktu berjam-jam di SPA atau klinik kecantikan, nge-gym, dan tentu saja hang out dengan socialite-socialite yang lainnya. So?! She is a princess. Hidupnya adalah mimpi bagi banyak gdis-gadis remaja. Jadi, bisa disimpulkan hidupnya jauh dari stres maupun ancaman penyakit psikologi lainnya.
Awal mula dia terobesi dengan bantal karena sebuah mimpi. Sukar dipercaya, bukan?! Malam itu dia tertidur lelap untuk pertama kalinya. Di mimpinya, dia sedang tertidur lelap di atas bantal yang bersinar di sebuah hotel Montre di San Fransisco. See?! Unbelivable. Sejak saat itu, dia merasa penyembuh insomnianya hanyalah sebuah bantal yang dipercayanya berada di San Francisco.
“Riz, akhirnya gua tahu apa yang bisa membuatku sembuh dari insomnia!” Pekiknya di pagi buta. “Dulu, gua pernah nginep di hotel Montre. Dan tempat itu muncul di mimpiku. Ini pertanda Riz, ini pertanda!”
Aku yang masih setengah sadar, dengan mata terpejam, tak mampu mencerna kalimat-kalimat yang terlontar. Sepanjang telepon itu, aku hanya...”Hmmm...Iya...lalu...” Sampai keesokan harinya aku baru menyadari. Sabrina tengah melintasi Samudera menuju Amerika untuk mencari bantal impiannya. What the heal?! Aku hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Tak ada yang mampu menghentikan langkahnya.
*****
“Mbak Riza, telepon di line 1, URGENT!” Suara Mila, sekretarisku menggema melalui intercom. Sebuah yang hadir di rapat menatap saya.
“Siapa?”
“Mbak Sabrina”.
Mendengar nama sang owner disebut, seisi rapat memaklumi.
“Maaf, sebentar”. Saya segera meninggalkan ruang rapat Menuju ruangan pribadi saya. “Halo?!”
“Riz, cepat kamu cari keterangan Hotel Montre, Port 11th South Park”
Aku mencatat dengan cepat. “Memang kenapa?”
“Gue nyari di tempat yang dulu, udah berubah jadi apartment. Siapa tahu pindah or something”
“Memang kapan kamu kesana?”
“Saat gue umur delapan tahun”.
Gubrak! Tujuhbelas tahun yang lalu. “Oke...ada meeting nih!”
“Iya...iya...” Sabrina menutup teleponnya.
Aku tertegun memandang secarik note. Hotel Montre Port 11th South Park. Aku beranjak keluar, karena peserta meeting menungguku.
“Mil, cari data ini”. Aku mengangsurkan kertas catatanku. “San Fransisco”.
Mila hanya tersenyum.
Seusai jam istirahat siang Mila memberikan laporan mengenai Hotel Montre. Jatuh bangkrut pada tahun 1993, semua kekayaannya disita negara dan pemiliknya, John Doughlas Fritz meninggal setahun sesudahnya. Istrinya, Mary-sue Fritz, satu-satunya ahli waris kini mengikuti suami barunya dan pindah ke Fiji.
Aku berpikir sejenak. Haruskah aku menceritakan semuanya? Tidak. Aku harus menghentikan kegilaan Sabrina. Aku mendial nomor tempatnya menginap.
“Sabs?!”
“Yup? Good news or bad news?”
“Bad. Hotel Montre tinggal sejarah. Jatuh bangkrut tahun 1993 dan pemiliknya telah meninggal”. Terangku.
Aku mendengan dengus kekecewaan Sabrina di seberang.
“Sabs, toko bantal nggak Cuma di San Fransisco!” Seruku membesarkan hatinya.
“Iya”. Suaranya terdengar lesu.
Setelahnya? Tidak. Aku benar-benar salah. Kegilaan Sabrina tidak berhenti. Tidak pula berkurang, bahkan menjadi-jadi. Kerjaannya sekarang dari pesawat satu ke pesawat lainnya. New york, Chicago, Las Vegas, Seatle, California, tidak puas...beralih ke benua berikutnya, London, Paris, Madrid, Munich, Swiss, Roma, Diemen, Yunani, Beijing, Tokyo, Seol, Busan, Bangkok, Singapore, Malaysia, Perth, Darwin. Entah berapa kota dia kunjungi. Setahun penuh melakukan perjalanan hanya untuk bantal.
Aku menggeleng-geleng, begitu tahu ada bantal dari Paris yang jika dirupiahkan berharga Rp. 3.500.000. Hah! Biasa aja tidurku. Begitu bangun aku juga tidak bertambah muda. Ha ha ha...Segala macam teknologi, bulu angsa yang dicampur dengan daun teh, latex dengan teknologi blue air. Sudahlah, aku tak ingat namanya satu persatu.
“Riz, gue baru saja membeli saham dari Wellness Sleep” Serunya begitu muncul di ruang kerjaku.
Aku memutar bola mataku. Pemilik Wellness Sleep tergila-gila dengan Sabrina.
“Dan aku mempunyai tim riset sendiri untuk mencari bantal impianku”.
“Dan bagusnya, Wellness adalah pemasok alat-alat bedding kita. You are so smart”. Ujarku.
Itulah yang tidak kumiliki. Sabrina yang nekat dan setengah waras, kadang punya peluang bisnis yang tidak disangka-sangka.
Begitulah. Hingga detik ini dia tetap melakukan eksperimen untuk meramu bantal-bantal ajaib. Bahkan hingga tengah malam dia berada di lab. Seperti malam ini, aku setia menunggunya.
*****

Ada suara gaduh di luar ruang kerjaku.
“Mbak, ada customer dari Thailand yang memaksa ingin bertemu”. Ujar Mila di intercom.
“Suruh masuk”. Ujarku.
Pria Thailand dengan sopan memperkenalkan dirinya. Namanya Pok Penh. Dia ingin membeli bantal yang kini berada di kamar yang dia huni. Manager on duty tidak mengabulkannya karena memang ini property hotel.
Sekarang, dia berlutut memohon supaya bantal ini bisa dibelinya. Tuhan, ada lagi rupanya orang gila yang tergila-gila dengan bantal ini.
“Ok, its free for you” Ucapku. Tak mau kepalaku dipusingkan hal-hal aneh-aneh.
Pok Penh bukan orang terakhir yang memohon-mohon untuk bisa memiliki bantal. Menjadi banyak Pok Penh – Pok Penh berikutnya.
“Kenapa kita tidak membuat saja toko khusus bantal?” Ujar Sabrina setelah mendengar ceritaku.
“....”
“Aku dan orang-orangku akan membuat desain-desain khusus. Lagipula ada Filosofi Kopi1, kenapa kita tidak menciptakan filosofi bantal?”
“Interesting” Satu kata terucap dari mulutku.
“Yup. Dreamer Pillow”.
*****
Semuanya berjalan cepat. Enam bulan setelahnya, Dreamer Pillow Store resmi berdiri. Kami tidak mendirikan toko pertamanya di Jakarta, tetapi di Denpasar Bali. Motto kami, Found your pillow to get beautiful sleep. Satu tahun pertama kita sudah membuka cabang di Bangkok dan mengikuti Scandinavian furniture fair. Dan tahu, Sabrina telah menemukan bantal impiannya, Dreamer Pillow. Sampai detik ini tidak menemukan bentuk fisiknya. Mengurusi Dreamer Pillow membuatnya sembuh dari insomnia.
“Sabs, dugem yuk?” Ajakku.
“Ogah! Gua mau tidur”. Serunya ngeloyor pergi.
“.....”
*****

















|
Pagi ini ketika mentari kembali bersinar
Seperti itulah asa yang mengikutinya
Kembali ada secerca harapan baru
Tiap detik ada perjuangan untuk sebuah harapan
Masihkah ada asa untukku juga?
Untuk menggapai suatu kehendak yang tak kunjung datang


























|
Monday, January 15, 2007

“Ha ha ha...lucu banget deh tadi”. Vina tertawa lebar hingga ujung matanya berair.
“Gila! Kok bisa ya?!” Timpal Adit.
Tiba-tiba suasana menjadi hening seketika.
“Udah malem. Kamu pulangnya hati-hati ya!” Vina membuka pintu mobil Adit.
Vina tidak berani menatap Adit. Turun dari mobil dalam diam. Masuk ke rumah tanpa menoleh ke belakang lagi.
“Vin?!” Panggil Adit.
Vina berhenti, mematung namun tidak menoleh.
Adit juga hanya memandangi punggung Vina, tidak berniat mendekat.
Air mata Vina perlahan-lahan meleleh.
“Vina?!”
“Adit!” Vina berbalik dengan berurai air mata.
Adit memeluk Vina. “Hushh!!!” Ucapnya berusaha menghentikan tangisan Vina.
“Adit jangan pergi!” Ucap Vina.
Adit tidak menjawab.
Vina tetap menangis sesegukan di pelukan Adit.
“Dengar,Vina! Adit nggak pergi kemana-mana. Adit akan ada terus di hati Vina”. Adit menunjuk jantung Vina.
“Tapi kan.....Adit bakalan jauh”. Tutur Vina masih dengan sesegukan.
Adit memeluk Vina lebih erat lagi. Vina mebenamkan mukanya dalam pelukan Adit. Pelukan yang akan menghilang dalam hitungan jam lagi.
“Adit pergi kan buat masa depan kita, sayang. Ini kesempatan emas. Iya kan?”
Tangis Vina berhenti. Lalu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Adit. “Iya, SEMANGATTT!!!” Teriak Vina.
“SEMANGATTT!!!” Sahut Adit.
“Adit pulangnya hati-hati, ya!”
Adit mengecup dahi Vina. “Tidur yang nyenyak, sayang!”
Vina melambaikan tangannya dan masuk ke rumah.
Namun tidak ada yang tahu. Di balik pintu, Vina kembali menangis sesegukkan. Di dalam mobil escudo yang berpacu di jalan raya, mata Adit berkaca-kaca.
“Vin?! Vina?” Nio menyalahkan lampu ruang tamu. “Ckk...jangan kayak ABG gini dong! Bikin aku takut. Yuk! Bangun! Jangan duduk di belakang pintu, pamali”.
Vina menuruti ajakan Nio. Bangun, kemudian duduk di sofa.
“Aku bikinin teh cammomille, ya?”
“Nggak usah, yo!” Jawab Vina. “Biarin aku sendirian ya!”
Nio mengangguk. Mematikan kembali lampu ruang tamu dan kembali ke kamarnya.
Vina kembali menangis. Menelungkupkan mukanya di bantal sofa, kemudian menangis, menangis sejadi-jadinya.
*****
“Yakin nggak mau aku tungguin?” Tanya Nio.
“Kamu kan ada kuliah, masak bolos gara-gara aku”. Jawab Vina. “Nggak pa-pa, aku pulang naik taksi aja”
“Hati-hati, ya!” Ucap Nio, kemudian meninggalkan Vina di bandara.
Vina mencari-cari sosok Adit di depan loket garuda Indonesia.
Sosok Adit yang tinggi melambai-lambaikan tangannya. Ada mama, papa, dan adiknya Danu di situ. Mampus mati kalau sampai Vina ketahuan nagis bombay. Di tahan air mata yang siap-siap tumpah.
“Om, Tante!” Vina menyapa mama dan papa Adit, menyalami tangan mereka. “Hai dude!” Vina memberikan high five ke Danu.
“Tadi di antar Nio?” Tanya Adit.
Vina hanya mengangguk, tenggorokannya tercekat, nafasnya seolah-olah berhenti, takkan tahan dia melihat wajah Adit. Begitu dia melihat wajah teduh nan rupawan itu, air mata itu akan segera tumpah. Sepanjang menunggu keberangkatan Adit, Vina lebih banyak membisu.
Akhirnya saat yang ditentukan tiba juga. Adit harus benar-benar pergi. Pesawatnya sudah hampir berangkat (kenapa sih jadwal penerbangan selalu on time di saat yang tidak tepat?!)
Adit menyalami kedua orangtuanya, berpamitan dengan adiknya. Vina berdiri melihat dengan lidah kelu, tak mampu berkata-kata.
Adit berbalik ke arah Vina. Memeluknya erat. Air mata Vina yang ditahan-tahannya, akhirnya tumpah ruah tak terbendung lagi.
“I love you, Vina......,” Bisiknya.
“I love you too...” Balas Vina dengan suara serak. “Baik-baik ya di sana!”.
“I’ll call you when I got there!”
Adit kini benar-benar menghilang.
“Vina, mau pulang bareng sama kita?” Tanya Om Erwin, papa Adit.
“Makasih Om. Saya naik taksi saja, mau mampir ke tempat lain dulu”. Kilah Vina. Ok, you’ve been crying in front of them because of their son. But stay in same car after that?! No no no...truly very bad idea.
“Hati-hati pulangnya! Nanti tetep juga main-main ke rumah walau nggak Adit!” Pesan tante Winda, mama Adit.
“Iya tante”.
“Kita pulang dulu ya!”
Vina melambaikan tangannya kepada orangtua dan adik Adit.
“Adit sudah pergi untuk sebuah pekerjaan. Semua itu untuk masa depan kita berdua, kenapa aku harus menangis?!” Batin Vina.
“Mbak?! Taksi?” Tanya sopir taksi dengan badan mirip bang bajuri.
“Hah?!” Vina tersadar dari lamunannya. “Iya...iya!”
“Mau diantar kemana, mbak?”
“Puri Gejayan”.
“Ok, pasti mbak nyampe di tempat dengan selamat”. Sopir taksi memacu taksinya. “Perkenalkan mbak, nama saya Soleh”.
Vina tidak menggubris ucapan si sopir.
“Mbak abis nganter sapa? Kalau dari matanya yang bengkak, pasti mbak nganter pacarnya pergi. Betul?” Bang Soleh menghela nafas. “Saya sudah dua belas tahun jadi supir taksi di bandara. Jadi, mau nggak mau saya ngerti karakter orang-orang dari bandara. Uhm, pacarnya pergi kuliah atau kerja?”
“Kerja...”
“He he he.....bagus dong, mbak. Dia ngumpulin duit. Pulang, terus ngelamar mbak. Saya jadi ingat jaman dulu dengan bini saya. Duh, saya banting tulang di Jakarta. Begitu udah cukupan, saya ajak kawin bini saya. Indah banget deh, mbak, kalau kita berhasil melewati kesusahan barengan orang yang kita cintai. He he he.....udah, mbak nggak usah sedih. Mbak, rumahnya blok berapa ya?”
“.....”
“Mbak?” Bang Soleh menoleh ke belakang. “Lha, kok tidur?! Mbak! Bangun! Udah nyampe puri gejayan ini”.
“Duh, berisikkk!”
“Yeee!!!! Udah nyampe ini”.
Vina mengucek-ucek matanya. “Udah nyampe?!”
“Iyeee!!!” Jawab bang Soleh kesal.
“Eh, belok kiri bang!” Seru Vina. “Yang di ujung”.
“Sudah sampai”.
Vina mengeluarkan uang seratus ribuan.
“Uang pas aja, mbak!”
“Nggak, memang saya mau ngasih abang lebih. Makasih atas AC-nya yang dingin banget dan ceritanya”.
“He he he....makasih ya, mbak! Mudah-mudahan dilancarkan rejekinya sama yang Maha kuasa”.
“Amin...” Vina keluar dari dalam taksinya bang Soleh.
Taksi menghilang di tikungan.
*****
“Di sini ternyata!” Seru Nio. “Aku bawain pizza sama ice cream, ayo kita berpesta!”
“Males, ah”.
“Ntar sakit, seluruh dunia ribut! Makan dong!”
Vina menuruti perkataan Nio.
“Tau nggak?! Semalem aku kira kamu kuntilanak. Nangis-nagis. Tangisanmu cempreng banget”.
“Iya lho, tadi aku di bandara nangis-nangis gitu. Di depan nyokap-bokapnya pula”.
“Ihh....nggak banget deh, bo’”. Nio mengayun-ayunkan sendok ice creamnya.
Vina merenggut
“Deuh, camermu jangan sampai ilfil dengan suara cemprengmu”.
“Dasar! Kamu tuh, kentut aja fals”.
“He he he....” Mereka tertawa bersama.
“Ini baru permulaannya”. Desis Vina.
“Aku percaya kalian bisa menjalaninya dengan baik” Sahut Nio.
“Tliiillliiittt!!!” Telepon genggam Vina berbunyi.
Dengan cepat dia menyambarnya. “Halo? Adit?!” Sambutnya histeris. “Gimana tadi perjalannya?”
Nio beranjak ke teras. Mentari kembali ke peraduannya. Bintang mulai bermunculan.
“Iya, gitu...supir taksinya lucu banget” Suara Vina terdengar bahagia. “Hahaha....”

________To be continued________
|
Monday, January 08, 2007

Kemarin bonyok diundang acara hajatan si Mr. E. Dia ngawinin anaknya yang ke-2. Tenyata, tukang paesnya nyokapnya sohibku, Didit. Undangan tertulis jam 10.00 - 12.00. Tahu, kemantennya baru dateng jam berapa? Jam 12.10. Tamu2 sudah pada pulang. Tuan rumah sepertinya malu karena undangan dateng, mantennya belum ada.

Ceritanya, jam 6, bulik dateng ke venue yang ditunjuk buat acara paes2an. Itu rumah bukan rumah ortu si penganten perempuan, tapi rumah neneknya. Si kemanten home staynya di Gresik. Bulik nunggu...padahal dia selaku tukang paes menjalankan puasa. Jam 8 si manten baru datang. Didandani dan you know...dia harus nunggu lagi. Karena yang nganter belum pada datang. Yah, begitulah...hingga undangan udah pada pulang dan mantennya baru datang.

Diurut-urut cerita kenapa manten perempuan dateng telat?! Karena pada saat ijab qobul si pihak laki-laki terlambat datang 2 jam karena bangun kesiangan. He he he... jadi pas resepsi jadi ajang balas dendam. Weleh-weleh... baru awal menikah sudah bau-bau ga' sedap.

Pesan moral: Semua itu perlu adanya niat baik dan positif thinking. Percuma balas membalas, ga' adayang bakalan menang. Betul ga?!

Bulikku ketawa-ketawa ngeliat 'pertikaian' keluarga. Yang untuk bagian fotografi. Udah bayar untuk 5 rol tapi yang kepake cuma 1. He he he... ^_^
|
Thursday, January 04, 2007

Yes, i do belive in. 2007 gonna be my opportunity year ^_^ Amin.
Awal tahun udah disambut berita tidak mengenakkan, kecelakaan Adam Air. Aku terhenyak, karena sebelumnya akang berencana menggunakan penerbangan itu. Puji Tuhan, syukur alhamdulillah dumateng gusti Allah, akang tidak jadi menggunakan. Sayangnya, ada satu teman akang yang turut serta di penerbangan itu dan sampai sekarang belum diketahui nasibnya. Mudah2an Tuhan YME melindungi mereka semua.
Yang bikin kecewa, setelah hari selasa dikabarkan pesawat sudah ditemukan. Seharian penuh berita di koran, televisi, radio membahas keberadaan pesawat itu. 90 orang meninggal, 12 selamat. Polewali jadi dikenal -aku tahunya cuman palimanan- Whole indonesia talk about it. Keluarga korban berharap 12 korban selamat adalah keluarganya, namun...seharian itu kita hanya membicarakan kabar burung. Konon...konon...konon... Bener2 Indonesia bukanlah negara kalau aku bilang. Ada rakyat, namun sayang nggak ada pemimpin yang bisa dipercaya. Nelangsa dengernya. Duh gusti, segera lenyapkan pejabat-pejabat tolol yang tahunya cuma korupsi dan maksiat. Lelah bumi pertiwi ini sebenarnya. Yup, sepertinya label Indonesia adalah bangsa yang hipokrit benar2 menempel lekat. Apakah benar itu kepribadian kami? Kenapa perlu bermanis mulut jika kenyataannya busuk?
FFI juga menjadi masalah. Bukti satu lagi, organisasi pemerintahan tidak layak. Apa intinya, ganti semua orang2 dengan paradigma lama. Aku belum pernah liat ekskul...yang sepintas kok kayak tragedi penyanderaan di columbia high school, bukan? Padahal kalau mau digarap serius film bisa jadi sumber devisa setelah TKW.
Hah, lelah hati ini nelangsa, lelah mengeluh sapa, namun ketika bangkit tapi masih ada batu2 besar...sepertinya ini pekerjaan sia2. Bukankah 2007 adalah tahun kesempatan? Semoga saja begitu. Bagiku orang yang beruntung adalah orang yang siap saat kesempatan itu datang.
|
Monday, January 01, 2007

HAPPY NEW YEAR 2007
Wishing You all the best and wonderful years!
New year...new spirit...and also new attitude...
Duh, senangnya udah tahun baru lagi. Uhm...rapotan kemarin not bad, so-so lah. Yah, mudah-mudahan di tahun 2007 semuanya aman, damai,sejahtera, dan dijauhkan dari malapetaka ^_^
Menjelang tutup tahun aku dikejutkan dengan sebuah berita. Lagi hujan, dan aku lagi baca to kill a mockingbird, tiba-tiba ada sms dari Belanda. Yup, Sabrina, right now six month pregnant. Huhuhu...1/2 kaget, 1/2 nggak percaya, 1/2 shock. My roommate now 6 month pregnant. So sweet. In 2007 I'll become aunty?! 1/2 kaget kok baru hamil 6 bulan dia kasih kabar? Biasanya sebulan sekali pasti ada sms atau email cuma untuk nanya kabar =D Malah pas world cup dia juga asyik-asyiknya liat. Sibuk liat world cup, morning sick, kerjaan dan pindahan. Berita soal pindah2nya siy tahu, tapi berita hamilnya kok keliwatan. Tapi nggak pa-pa aunty Prima ikut happy.
Hehehe...1/2 nggak percaya, si miss entertainment yang...miss-nya happy-happy dah, bisa juga hamil =D 'Stop smoking, Sabs' ;p Tuh kan, bisa juga nggak ngerokok. Dia cerita perutnya membesar, badannya gendutan (emang ada orang hamil nggak bervolume?! ;p), bayinya sehat. dan coming...dia mau ngirim pic hasil USG bayinya !_! aku bil, 'kalo bukan 4D mending jangan dikirim' ^_^ Hahaha...miss entertaiment yang suka ma indomie telorku, now 6 month pregnant.
Aku juga ikutan excited neh...mudah2an semuanya lancar buat Sabrina, Mi Livia....
|


Free Blog Content

"

Zawa-BirthdayReminder

< <

"

the kite runner