
“Sreekkk...” Aku mengubah posisi badanku hingga ujung-ujung sprei tersingkap.
Sinar mentari menghujam melewati jendela dan menembus korden kamarku. Mentari sudah tinggi, pastinya. Aku malas bangkit. Badanku sakit, seperti habis ditimpa beton yang beratnya berton-ton. Aku lelah. Aku tidak ingin bangun, kemudian beraktifitas.
Jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit.
Aku menatap dinding di hadapanku dengan kosong. Lalu, aku menyerah pada kewajiban lain. Aku bangkit dari tempat tidur. Duduk di ujungnya. Hah! Kamarku berantakan sekali. Tisue-tisue bertebaran di lantai, sisa semalam.
Aku bangkit menuju kamar mandi. Sisi mataku menangkap bayangan lusuh di cermin. Rupaku kusut, mataku bengkak, dan rambut acak-acakan. Aku tidak peduli, benar-benar tidak peduli.
Kunyalakan pancuran. Brrr!!! Air yang dingin sontak mengaktfkan kembali saraf-sarafku yang telah mati semalam. Aku terjaga total. Air ini segar, tapi tidak juga menyegarkan hatiku.
Masih dalam balutan handuk, kuisi teko dengan air mineral, lalu kujerang di atas kompor. Aku melongok sebentar keluar jendela. Semuanya masih sama. Matahari masih bersinar, bumi pun aku rasa masih berputar, orang-orang berlalu lalang menyambut aktifitas pagi.
“Apakah di antara mereka ada yang sedang sedih atau sakit?” Tanyaku dalam hati.
Bunyi air mendidih memecahkan lamunanku.
Aku kembali ke dapur, menyeduh teh chamomile. Kutinggalkan teh itu di meja dapur, kemudian aku ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor.
Setelah menaburkan bedak di wajahku, rupa kusut itu sedikit menghilang. Aku mencoba tersenyum. Kuhela nafas dan bangkit dari meja rias untuk menikmati teh chamomile.
Deg!
Aku berhenti sebentar. Kuletakkan cangkir teh yang baru kusesap sekali. Hatiku kembali menangis. Tak terasa dua anak sungai mengalir di kedua pipiku. Aku nelangsa!
Buru-buru kuhapus air mataku dan kembali mencoba menikmati teh chamomile dengan santai. Namun, aku tak bisa bohong. Handphoneku tidak bergetar pagi ini, tidak ada yang menyapa mengucapkan selamat pagi, ataupun bertanya nyenyak kah tidurku semalam?
Belum sehari, aku sudah merindukan sesuatu yang hilang. Sial! Seandainya otak kita dapat dengan mudah menghapus memori, sebagaimana komputer menghapus dengan sekali klik, kemudian tak berjejak. Sayangnya tidak begitu. Otak kita memang menghapus, tapi jejaknya masih bisa ditelusuri hingga kapan pun.
*****
Kertas-kertas bertumpuk di meja. Semuanya sama. Harus segera usai dan diserahkan pada atasan sebelum tahun baru. Dari pagi aku berada di balik komputer, menyelesaikan laporan-laporan itu.
“Nes, makan siang yuk!” Ajak Tanti.
“Duluan aja gih! Nanggung nih”. Jawabku.
“Oke, duluan ya!”
Aku melirik sekilas ke arah handphoneku. Biasanya kalau siang begini ada yang menelpon atau mengirim sms sekedar bertanya, apakah aku sudah makan siang? Dan buru-buru mengingatkan kalau aku sedang malas makan, atau terlampau sibuk hingga jam makan tertunda.
Aku menggelengkan kepalaku cepat-cepat, seolah berusaha mengusir kerinduan itu. Dan kembali menekuni pekerjaanku.
*****
Tak terasa satu hari terlampaui. Aku telah kembali lagi ke apatermenku. Aku masih tidak baik-baik saja. Aku masih merasakan sakit yang luar biasa. Rasa sakit di sekujur tubuhku. Namun, jika kau tanya, bagaimana rasanya? Ntahlah, aku tidak bisa membahasakannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku menyantap mie instan yang kubuat sendiri. Sementara siaran berita yang sedang kulihat menampilkan beragam berita hari ini. Bom meledak! Skandal! Pemilihan pimpinan daerah yang berakhir rusuh! Kematian artis! Semuanya silih berganti, membuktikan kalau hari ini memang ada. Hari ini tetap berputar sebagaimana mestinya. Tak ada yang membuatnya berhenti. Dunia tidak pernah menunggu.
*****
Dua bulan kemudian
“Praakkk!!!”
Bunyi itu mengagetkan seisi ruangan. Meja ruang rapat pecah.
Aku jongkok membereskan kertas-kertas yang berhamburan.
“Astaga!” Evina memekik panik.
Aku menoleh ke arahnya.
“Ya Tuhan!” Kini Tanti ikut-ikutan histeris.
Aku tidak tahu, mengapa mereka histeris.
Mas Dean ikutan jongkok di sampingku. Memegang tanganku yang... aku tidak tahu dari mana darah itu berasal. Apakah itu darahku?! Aku tidak merasakan apa-apa. Apakah aku sudah menjadi zombie? Ataukah aku sudah kebal dengan rasa perih.
Mas dean menghentikan aliran darahku. “Ayo kita ke rumah sakit!”
Aku linglung.
*****
Aku mendapat tiga jahitan di tangan kiriku. Sepulang dari rumah sakit, mas Dean mengantarku ke apatermen. Tanti memaksa menjagaku. Tapi, kenapa aku? Aku baik-baik saja.
“Kamu ditemani Tanti ya, malam ini?”
Aku menggeleng. “Aku tidak apa-apa kok mas”. Ujarku meyakinkan mas Dean.
Sedikit memaksa memang. Lalu mas Dean mengalah. Meluluskan permintaanku.
*****
Kupejamkan mataku. Tak bisa tidur, namun kupaksa untuk tetap terpejam. Aku tidak ingin kembali terjaga. Kembali ke kehidupan fana. Kupaksakan mataku terpejam. Namun hanya gelap...gelap...dan tetap gelap yang kutemukan. Tidak kujumpai meja kantorku, mantan pacarku yang kurindukan, rutinitas sehari-hari. Ada apa denganku? Sampai-sampai mimpi indah pun enggan menyapa. Sepertinya semuanya yang indah tidak lagi bisa kusentuh.
Kemudian, entah darimana...sosok besar hitam menghampiri.
“Hai, mau kemana kau?” Tanyanya.
“Aku...aku mau mencari yang indah”. Jawabku sekenanya.
“Kenapa?!”
“Tidak ada lagi keindahan padaku. Semuanya muram, suram!”
“Oya?!”
“Pacar yang aku cintai dan banggakan meninggalkan aku dengan pelacur murahan. Padahal, aku sudah berkorban banyak untuk dirinya”. Ujarku sambil terisak.
Sang bayangan terdiam.
“Kenapa?! Kenapa meninggalkan aku? Aku cantik, punya karier cemerlang, kekayaan, pintar. Semua yang kumiliki akan membanggakan dia. Bukannya perempuan itu. Dia bukan sosok wanita sophisticated. Tidak layak dibanggakan di depan orang banyak”.
“Tidakkah kau mencoba membuka matamu?”
Giliran aku terdiam, berpikir.
“Untuk apa membuka mata kalau semuanya tidak ada yang indah”. Jawabku kemudian.
“Justru karena kamu tidak mau membuka mata, makanya tidak nampak keindahan!”
“Katanya siapa?!” Aku menyangsikan.
“Sekarang coba jawab pertanyaanku! Tidakkah matahari itu indah?” Tanyanya.
“TIDAKK!! Panas membakar kulitku”. Jawabku.
Sang bayangan tertawa mengejek. “Jawaban salah. Maka tanganmu harus kupotong”.
“Apakah hujan itu indah?”
“TIDAKK!! Membuatku terserang flu”
Lalu tangan kiriku dipotongnya.
“Apakah apatermenmu indah?”
“TIDAKK!! Aku perlu uang banyak untuk mendapatkannya”.
Giliran kakiku dipotongnya.
“Apakah pencapaian kariermu indah?”
“TIDAKKK!!! Hanya kelelahan yang kudapat”. Jawabku mempertahankan pendirianku.
Hanya kata tidak yang meluncur dari mulutku. Seluruh badanku habis dipotongnya. Hanya bersisa badan dan kepala saja.
“Percuma aku menghukummu. Orang bodoh bukanlah orang salah. Kamu bodoh karena kamu tidak mau mendengar. Cobalah membuka matamu! Lihatlah sekelilingmu. Semuanya indah. Kau bekerja, memiliki karier cemerlang, teman yang peduli padamu. Lihatlah matahari tetap terbit, bumi tetap berputar. Kenapa kau memaksa untuk tetap diam?! Untuk apa kau gantungkan keindahan hanya pada seseorang? Toh, cepat atau lambat orang itu akan mati dan meninggalkanmu!”
Aku hanya tergolek tidak berdaya di sudut ruangan.
“Latihlah matamu, Kau akan menemukan keindahan di manapun itu”.
Sosok itu menghilang.
Nafasku memburu, sekujur tubuhku basah karena keringat. Aku masih di atas tempat tidur. Tubuhku utuh tak kurang satu pun.
Ternyata...ternyata...aku mimpi.
Aku buru-buru bangkit dan mengucap syukur.
Aku belum mati!
Aku masih hidup!
Aku mulai menangis menyesali semuanya.
Ingatanku bergulung ke memori dua bulan yang lalu. Siang itu, selepas aku makan siang dengan Tanti. Kulihat sosok Rio di antara lalu lalang orang-orang berjalan di depan cafe tempat aku makan siang. Karena ingin mengejutkannya, aku mengikuti dirinya. Namun apa yang terjadi, aku melihat dirinya bersama seorang perempuan sedang asyik memilih-milih gaun pengantin. Kuingat-ingat sosok wanita itu, barangkali saudara atau sepupunya. Ingatanku tidak menemukan identitas wanita itu. Aku tidak gampang curiga. Toh, Rio tidak mesra-mesraan di depanku. Binar mata Rio tidak seperti saat dia menatapku. Tidak kutemukan binar-binar cinta di matanya.
Aku kembali ke kantor dan bermaksud menanyakannya besok. Namun, malam harinya Rio mampir ke apatermenku. Dia berbeda. Tidak menciumku, bahkan sentuhan tanganku di bahunya pun ditepiskan.
“Aku mau bicara Nes!” Ucapnya.
“Sejak kapan sih, mau bicara aja pake ijin?” Aku masih bisa bercanda.
“Maaf! Sepertinya hubungan kita harus berakhir di sini”.
Duerr!!!
Bagai tersambar petir di siang bolong. Tubuhku lunglai seketika.
“Jadi benar, baju pengantin tadi siang itu buat wanita lain?” Tanyaku dengan suara isak tangis.
Rio tidak berani menatapku dan sepertinya pertanyaan itu tidak membutuhkan lagi penegasan.
“Sebelum bersamamu, aku sudah memiliki tunangan. Dia tinggal di Medan”
Aku hancur, berserakan, akulah wanita kedua itu. Akulah yang menjadi penganggu hubungan mereka. Apakah aku masih berhak meminta hakku? Rio kembali bicara namun aku tak mendengarkan. Aku sibuk merangkai puzzle-puzzle ingatanku. Ini rupanya, kenapa dia tidak pernah mengenalkan diriku kepada orangtuanya. Bahkan saat aku ke Medan. Aku tidak dibawa kerumahnya. Aku diinapkan di hotel. Rupanya ini alasan dia menjadi susah dihubungi ketika dirinya kembali ke Medan.
“Keluar dari apatermenku!” Teriakku kemudian.
Aku menangis semalaman. Aku menangis kenapa aku membiarkan diriku menjadi orang kedua? Bagaimana mungkin itu terjadi? Dua tahun kita bersama, tapi bangkai itu tersimpan rapi tak terendus. Aku mengutuk kebodohanku. Sosok pria idaman, sempurna di mataku tak bisa aku perjuangkan. Separuh hatiku ingin berlari, berteriak, memeluknya memohon untuk tidak pergi. Tapi hatiku yang lain berkata, ada wanita lain yang menunggunya. Dia yang pertama. Aku berusaha menutup mata dan hati, membenarkan diriku lah yang berhak, bukanlah dia. Namun...aku tidak tuli.
Sisa malam itu aku hanya menangis. Mempertanyakan ini-itu. Dan keesokan harinya kau sudah tahu apa yang terjadi, aku tidak perlu lagi menceritakannya.
Aku masih menangis. Sinar bulan nampak indah menembus jendela kamarku. Tangisku semakin menjadi-jadi. Kemanakah aku sudah mencari indah? Ke sosok laki-laki bajingan yang selingkuh dari tunangannya? Dia kah keindahan? Tak terbayangkan jika aku dalam posisi tunangannya. Kini, tak ada lagi pertanyaan kenapa Rio lebih memilih tunangannya, padahal dua tahun bukan waktu yang pendek. Aku sekarang tahu, aku lebih kuat untuk ditinggalkan.
Bayangan hitam dalam mimpiku mengingatkan. Apa yang ada di sekelilingku adalah indah. Kenapa aku memaksakan memejamkan mata? Aku telah menghukum diriku sendiri.
Akhirnya aku kembali tertidur karena kelelahan menangis. Kini, tidak lagi gelap. Aku sudah bisa bermimpi. Menemukan indah dalam bentuk lain. Aku bermimpi berjalan di atas pelangi. Bukankah begitu? Setelah ada hujan deras, pasti ada pelangi. Setelah menghadapi beban berat, akan ada keindahan yang lebih warna-warni.
*****
Enam bulan kemudian
Aku dan mas Dean di sebuah kedai kopi. Duduk saling berhadapan. Masing-masing memegang mug putih berisi kopi.
“Aku nggak tahu kalo mas juga suka nongkrong di sini?”
“Aku tahu kalo kamu suka kemari”.
“Hmm...?” Aku menegakkan badan. “Darimana tahunya?”
“Dari bungkusan cofee di sampahmu. Kalau lembur kamu duka bawa-bawa ke kantor, kan?”
Aku tertawa. “Sebenarnya enak diminum di sini”. Aku melihat sekeliling. Pohon rindang memayungi kami. Sungguh sangat asri. “Tapi kalau sendirian di sini...nggak enak juga”.
“Yup. Nggak ada teman ngobrol”. Sahut mas Dean.
“Kok nggak pernah ngajakin saya? Barengan ngopi gitu”.
“Mana berani. Kan kamu punya herder saat itu”.
“Ha ha ha...” Aku mencubit lengan mas Dean.
“Duhhh....sakit!” Sambil pura-pura cemberut manyun.
“Maaf! Maaf deh!”
“Enggak ding. Enak dicubit sama cewek cantik”.
Aku tersenyum malu. Ntah apakah pipiku bersemu-semu merah saat itu?!
Pandangan kami saling bertabrakan. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan, takut salah tingkah.
“Pulang dari sini nonton, yuk?!” Tanya mas Dean.
Kami kembali melanjutkan percakapan. Kopi hangat dan sepotong donat menghangatkan badan selepas hujan.
Ups! Ada pelangi. Rupanya keindahan telah kembali menyapa.
*****
By : Primadika