<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=28179318&amp;blogName=The+Prima+World&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Flovelyprima.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Flovelyprima.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
♥The Prima World ♥
Tuesday, December 26, 2006

Wuahhh...weekend yang panjang dan seruuuu!!!!
Ngumpul2 ma keluarga untuk celebrate christmas. Orang tuaku merayakan natal, jadi capenya berasa pas natal bukan lebaranan !_! Tapi fun kok... ^_^ Makan2 ampe perut kenyang euy!!! yummie....

Aku sore tadi aku ngirim e-card buat temenku yang ultah sambil baca blog teman2. Hehehe...lucu2. Ada yg cerita soal ibunya, putus ma pacarnya, temennya nikah, ampe curhat UNAIR. Si teh Rini ma ME kan lulusan situ. Maaf lho ya...nggak maksud kurang ajar. Dan yang amazing...kakeknya kakang punya account di friendster euy!!! Si atok gaul dah, nggak mau kalah ma cucu2nya. 82 years old but still hip. Gantengan kakeknya daripada akang ;p Kwakaka...Si kakek walo dah tua, masih gaya...suka plesiran. One day, kita pasti bakal ketemu, ya kek?! ^_^

Merry X'mas 2006 buat yang merayakan.

Ps: For lovely Sabrina 'happy birthday sista'
|
Thursday, December 21, 2006



“Sreekkk...” Aku mengubah posisi badanku hingga ujung-ujung sprei tersingkap.
Sinar mentari menghujam melewati jendela dan menembus korden kamarku. Mentari sudah tinggi, pastinya. Aku malas bangkit. Badanku sakit, seperti habis ditimpa beton yang beratnya berton-ton. Aku lelah. Aku tidak ingin bangun, kemudian beraktifitas.
Jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit.
Aku menatap dinding di hadapanku dengan kosong. Lalu, aku menyerah pada kewajiban lain. Aku bangkit dari tempat tidur. Duduk di ujungnya. Hah! Kamarku berantakan sekali. Tisue-tisue bertebaran di lantai, sisa semalam.
Aku bangkit menuju kamar mandi. Sisi mataku menangkap bayangan lusuh di cermin. Rupaku kusut, mataku bengkak, dan rambut acak-acakan. Aku tidak peduli, benar-benar tidak peduli.
Kunyalakan pancuran. Brrr!!! Air yang dingin sontak mengaktfkan kembali saraf-sarafku yang telah mati semalam. Aku terjaga total. Air ini segar, tapi tidak juga menyegarkan hatiku.
Masih dalam balutan handuk, kuisi teko dengan air mineral, lalu kujerang di atas kompor. Aku melongok sebentar keluar jendela. Semuanya masih sama. Matahari masih bersinar, bumi pun aku rasa masih berputar, orang-orang berlalu lalang menyambut aktifitas pagi.
“Apakah di antara mereka ada yang sedang sedih atau sakit?” Tanyaku dalam hati.
Bunyi air mendidih memecahkan lamunanku.
Aku kembali ke dapur, menyeduh teh chamomile. Kutinggalkan teh itu di meja dapur, kemudian aku ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor.
Setelah menaburkan bedak di wajahku, rupa kusut itu sedikit menghilang. Aku mencoba tersenyum. Kuhela nafas dan bangkit dari meja rias untuk menikmati teh chamomile.
Deg!
Aku berhenti sebentar. Kuletakkan cangkir teh yang baru kusesap sekali. Hatiku kembali menangis. Tak terasa dua anak sungai mengalir di kedua pipiku. Aku nelangsa!
Buru-buru kuhapus air mataku dan kembali mencoba menikmati teh chamomile dengan santai. Namun, aku tak bisa bohong. Handphoneku tidak bergetar pagi ini, tidak ada yang menyapa mengucapkan selamat pagi, ataupun bertanya nyenyak kah tidurku semalam?
Belum sehari, aku sudah merindukan sesuatu yang hilang. Sial! Seandainya otak kita dapat dengan mudah menghapus memori, sebagaimana komputer menghapus dengan sekali klik, kemudian tak berjejak. Sayangnya tidak begitu. Otak kita memang menghapus, tapi jejaknya masih bisa ditelusuri hingga kapan pun.
*****
Kertas-kertas bertumpuk di meja. Semuanya sama. Harus segera usai dan diserahkan pada atasan sebelum tahun baru. Dari pagi aku berada di balik komputer, menyelesaikan laporan-laporan itu.
“Nes, makan siang yuk!” Ajak Tanti.
“Duluan aja gih! Nanggung nih”. Jawabku.
“Oke, duluan ya!”
Aku melirik sekilas ke arah handphoneku. Biasanya kalau siang begini ada yang menelpon atau mengirim sms sekedar bertanya, apakah aku sudah makan siang? Dan buru-buru mengingatkan kalau aku sedang malas makan, atau terlampau sibuk hingga jam makan tertunda.
Aku menggelengkan kepalaku cepat-cepat, seolah berusaha mengusir kerinduan itu. Dan kembali menekuni pekerjaanku.
*****
Tak terasa satu hari terlampaui. Aku telah kembali lagi ke apatermenku. Aku masih tidak baik-baik saja. Aku masih merasakan sakit yang luar biasa. Rasa sakit di sekujur tubuhku. Namun, jika kau tanya, bagaimana rasanya? Ntahlah, aku tidak bisa membahasakannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku menyantap mie instan yang kubuat sendiri. Sementara siaran berita yang sedang kulihat menampilkan beragam berita hari ini. Bom meledak! Skandal! Pemilihan pimpinan daerah yang berakhir rusuh! Kematian artis! Semuanya silih berganti, membuktikan kalau hari ini memang ada. Hari ini tetap berputar sebagaimana mestinya. Tak ada yang membuatnya berhenti. Dunia tidak pernah menunggu.
*****
Dua bulan kemudian

“Praakkk!!!”
Bunyi itu mengagetkan seisi ruangan. Meja ruang rapat pecah.
Aku jongkok membereskan kertas-kertas yang berhamburan.
“Astaga!” Evina memekik panik.
Aku menoleh ke arahnya.
“Ya Tuhan!” Kini Tanti ikut-ikutan histeris.
Aku tidak tahu, mengapa mereka histeris.
Mas Dean ikutan jongkok di sampingku. Memegang tanganku yang... aku tidak tahu dari mana darah itu berasal. Apakah itu darahku?! Aku tidak merasakan apa-apa. Apakah aku sudah menjadi zombie? Ataukah aku sudah kebal dengan rasa perih.
Mas dean menghentikan aliran darahku. “Ayo kita ke rumah sakit!”
Aku linglung.
*****
Aku mendapat tiga jahitan di tangan kiriku. Sepulang dari rumah sakit, mas Dean mengantarku ke apatermen. Tanti memaksa menjagaku. Tapi, kenapa aku? Aku baik-baik saja.
“Kamu ditemani Tanti ya, malam ini?”
Aku menggeleng. “Aku tidak apa-apa kok mas”. Ujarku meyakinkan mas Dean.
Sedikit memaksa memang. Lalu mas Dean mengalah. Meluluskan permintaanku.
*****
Kupejamkan mataku. Tak bisa tidur, namun kupaksa untuk tetap terpejam. Aku tidak ingin kembali terjaga. Kembali ke kehidupan fana. Kupaksakan mataku terpejam. Namun hanya gelap...gelap...dan tetap gelap yang kutemukan. Tidak kujumpai meja kantorku, mantan pacarku yang kurindukan, rutinitas sehari-hari. Ada apa denganku? Sampai-sampai mimpi indah pun enggan menyapa. Sepertinya semuanya yang indah tidak lagi bisa kusentuh.
Kemudian, entah darimana...sosok besar hitam menghampiri.
“Hai, mau kemana kau?” Tanyanya.
“Aku...aku mau mencari yang indah”. Jawabku sekenanya.
“Kenapa?!”
“Tidak ada lagi keindahan padaku. Semuanya muram, suram!”
“Oya?!”
“Pacar yang aku cintai dan banggakan meninggalkan aku dengan pelacur murahan. Padahal, aku sudah berkorban banyak untuk dirinya”. Ujarku sambil terisak.
Sang bayangan terdiam.
“Kenapa?! Kenapa meninggalkan aku? Aku cantik, punya karier cemerlang, kekayaan, pintar. Semua yang kumiliki akan membanggakan dia. Bukannya perempuan itu. Dia bukan sosok wanita sophisticated. Tidak layak dibanggakan di depan orang banyak”.
“Tidakkah kau mencoba membuka matamu?”
Giliran aku terdiam, berpikir.
“Untuk apa membuka mata kalau semuanya tidak ada yang indah”. Jawabku kemudian.
“Justru karena kamu tidak mau membuka mata, makanya tidak nampak keindahan!”
“Katanya siapa?!” Aku menyangsikan.
“Sekarang coba jawab pertanyaanku! Tidakkah matahari itu indah?” Tanyanya.
“TIDAKK!! Panas membakar kulitku”. Jawabku.
Sang bayangan tertawa mengejek. “Jawaban salah. Maka tanganmu harus kupotong”.
“Apakah hujan itu indah?”
“TIDAKK!! Membuatku terserang flu”
Lalu tangan kiriku dipotongnya.
“Apakah apatermenmu indah?”
“TIDAKK!! Aku perlu uang banyak untuk mendapatkannya”.
Giliran kakiku dipotongnya.
“Apakah pencapaian kariermu indah?”
“TIDAKKK!!! Hanya kelelahan yang kudapat”. Jawabku mempertahankan pendirianku.
Hanya kata tidak yang meluncur dari mulutku. Seluruh badanku habis dipotongnya. Hanya bersisa badan dan kepala saja.
“Percuma aku menghukummu. Orang bodoh bukanlah orang salah. Kamu bodoh karena kamu tidak mau mendengar. Cobalah membuka matamu! Lihatlah sekelilingmu. Semuanya indah. Kau bekerja, memiliki karier cemerlang, teman yang peduli padamu. Lihatlah matahari tetap terbit, bumi tetap berputar. Kenapa kau memaksa untuk tetap diam?! Untuk apa kau gantungkan keindahan hanya pada seseorang? Toh, cepat atau lambat orang itu akan mati dan meninggalkanmu!”
Aku hanya tergolek tidak berdaya di sudut ruangan.
“Latihlah matamu, Kau akan menemukan keindahan di manapun itu”.
Sosok itu menghilang.
Nafasku memburu, sekujur tubuhku basah karena keringat. Aku masih di atas tempat tidur. Tubuhku utuh tak kurang satu pun.
Ternyata...ternyata...aku mimpi.
Aku buru-buru bangkit dan mengucap syukur.
Aku belum mati!
Aku masih hidup!
Aku mulai menangis menyesali semuanya.
Ingatanku bergulung ke memori dua bulan yang lalu. Siang itu, selepas aku makan siang dengan Tanti. Kulihat sosok Rio di antara lalu lalang orang-orang berjalan di depan cafe tempat aku makan siang. Karena ingin mengejutkannya, aku mengikuti dirinya. Namun apa yang terjadi, aku melihat dirinya bersama seorang perempuan sedang asyik memilih-milih gaun pengantin. Kuingat-ingat sosok wanita itu, barangkali saudara atau sepupunya. Ingatanku tidak menemukan identitas wanita itu. Aku tidak gampang curiga. Toh, Rio tidak mesra-mesraan di depanku. Binar mata Rio tidak seperti saat dia menatapku. Tidak kutemukan binar-binar cinta di matanya.
Aku kembali ke kantor dan bermaksud menanyakannya besok. Namun, malam harinya Rio mampir ke apatermenku. Dia berbeda. Tidak menciumku, bahkan sentuhan tanganku di bahunya pun ditepiskan.
“Aku mau bicara Nes!” Ucapnya.
“Sejak kapan sih, mau bicara aja pake ijin?” Aku masih bisa bercanda.
“Maaf! Sepertinya hubungan kita harus berakhir di sini”.
Duerr!!!
Bagai tersambar petir di siang bolong. Tubuhku lunglai seketika.
“Jadi benar, baju pengantin tadi siang itu buat wanita lain?” Tanyaku dengan suara isak tangis.
Rio tidak berani menatapku dan sepertinya pertanyaan itu tidak membutuhkan lagi penegasan.
“Sebelum bersamamu, aku sudah memiliki tunangan. Dia tinggal di Medan”
Aku hancur, berserakan, akulah wanita kedua itu. Akulah yang menjadi penganggu hubungan mereka. Apakah aku masih berhak meminta hakku? Rio kembali bicara namun aku tak mendengarkan. Aku sibuk merangkai puzzle-puzzle ingatanku. Ini rupanya, kenapa dia tidak pernah mengenalkan diriku kepada orangtuanya. Bahkan saat aku ke Medan. Aku tidak dibawa kerumahnya. Aku diinapkan di hotel. Rupanya ini alasan dia menjadi susah dihubungi ketika dirinya kembali ke Medan.
“Keluar dari apatermenku!” Teriakku kemudian.
Aku menangis semalaman. Aku menangis kenapa aku membiarkan diriku menjadi orang kedua? Bagaimana mungkin itu terjadi? Dua tahun kita bersama, tapi bangkai itu tersimpan rapi tak terendus. Aku mengutuk kebodohanku. Sosok pria idaman, sempurna di mataku tak bisa aku perjuangkan. Separuh hatiku ingin berlari, berteriak, memeluknya memohon untuk tidak pergi. Tapi hatiku yang lain berkata, ada wanita lain yang menunggunya. Dia yang pertama. Aku berusaha menutup mata dan hati, membenarkan diriku lah yang berhak, bukanlah dia. Namun...aku tidak tuli.
Sisa malam itu aku hanya menangis. Mempertanyakan ini-itu. Dan keesokan harinya kau sudah tahu apa yang terjadi, aku tidak perlu lagi menceritakannya.
Aku masih menangis. Sinar bulan nampak indah menembus jendela kamarku. Tangisku semakin menjadi-jadi. Kemanakah aku sudah mencari indah? Ke sosok laki-laki bajingan yang selingkuh dari tunangannya? Dia kah keindahan? Tak terbayangkan jika aku dalam posisi tunangannya. Kini, tak ada lagi pertanyaan kenapa Rio lebih memilih tunangannya, padahal dua tahun bukan waktu yang pendek. Aku sekarang tahu, aku lebih kuat untuk ditinggalkan.
Bayangan hitam dalam mimpiku mengingatkan. Apa yang ada di sekelilingku adalah indah. Kenapa aku memaksakan memejamkan mata? Aku telah menghukum diriku sendiri.
Akhirnya aku kembali tertidur karena kelelahan menangis. Kini, tidak lagi gelap. Aku sudah bisa bermimpi. Menemukan indah dalam bentuk lain. Aku bermimpi berjalan di atas pelangi. Bukankah begitu? Setelah ada hujan deras, pasti ada pelangi. Setelah menghadapi beban berat, akan ada keindahan yang lebih warna-warni.
*****
Enam bulan kemudian

Aku dan mas Dean di sebuah kedai kopi. Duduk saling berhadapan. Masing-masing memegang mug putih berisi kopi.
“Aku nggak tahu kalo mas juga suka nongkrong di sini?”
“Aku tahu kalo kamu suka kemari”.
“Hmm...?” Aku menegakkan badan. “Darimana tahunya?”
“Dari bungkusan cofee di sampahmu. Kalau lembur kamu duka bawa-bawa ke kantor, kan?”
Aku tertawa. “Sebenarnya enak diminum di sini”. Aku melihat sekeliling. Pohon rindang memayungi kami. Sungguh sangat asri. “Tapi kalau sendirian di sini...nggak enak juga”.
“Yup. Nggak ada teman ngobrol”. Sahut mas Dean.
“Kok nggak pernah ngajakin saya? Barengan ngopi gitu”.
“Mana berani. Kan kamu punya herder saat itu”.
“Ha ha ha...” Aku mencubit lengan mas Dean.
“Duhhh....sakit!” Sambil pura-pura cemberut manyun.
“Maaf! Maaf deh!”
“Enggak ding. Enak dicubit sama cewek cantik”.
Aku tersenyum malu. Ntah apakah pipiku bersemu-semu merah saat itu?!
Pandangan kami saling bertabrakan. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan, takut salah tingkah.
“Pulang dari sini nonton, yuk?!” Tanya mas Dean.
Kami kembali melanjutkan percakapan. Kopi hangat dan sepotong donat menghangatkan badan selepas hujan.
Ups! Ada pelangi. Rupanya keindahan telah kembali menyapa.
*****

By : Primadika
|
Wednesday, December 20, 2006

Apa kabar dunia??? Pagi ini matahari masih bersinar dan bumi masih berputar. Jadi, semangat masih tetap menyalah, kan?
Well, kemarin saya diberi seseorang (kwekeke...) majalah. Judulnya Bukune. Diterbitin sama Media Kita. Kita juga bisa lihat isinya melalui www.bukune.com
Sejak pertama membaca aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama ^_^. Bukune benar-benar beda dari majalah-majalah yang ada. Kalo dilihat sih segmentasinya membidik usia sekolah (SMP/SMA), perguruan tinggi, tapi juga masih available buat yang tuwir-tuwir macam saya gini (He he he...). Target pasarnya, off course, segmentasi tadi yang hobi baca, concern dengan dunia tulis menulis, gambar-gamabr komik. Walo bukune masih muda banget -yang aku dapet edisi ke-2, tapi isinya berbobot. Manteb dah!
Yang menarik dari bukune, katalog buku baru dari berbagai macam penerbit (Gagas media, wahyu media, qultum media, Dastan book, GPU, Read! Publising house, Media presindo, dll), plus ulasannya...kalo beruntung ada juga komen langsung dari penulisnya. Kedua, kolom-kolomnya seru. Tips buat penulis and stripper. Di edisi ke dua ada seluk beluk editing and cerita sukses Icha Rahmanti dan Hilman. Ketiga, kamu-kamu juga bisa bergabung dengan mengirimkan cerpen atau free writing -nulis opini- ada imbalannya juga, lho... Keempat, bagi penggemarnya Raditya Dika, bukune memanjakan kalian dengan 2 kolom yang diasuh Dika. Tabib bukune (ngakak abizzzz...) dan juga ulasannya Dika yang bermaksud nyaingin kolomnya Carrie Bradshaw, tapi malah jadinya tulisan GPT banget =D Pokoknya kalo kalian ngaku jatuh cinta ama dunia tulis, baca, dan komik, layak dibaca bukune. Kumplit!
Sayangnya, baru beredar di JABOTABEK. Mungkin karena sifatnya free magazine. Di surabaya memang sulit di dapet. kalo mau ya langganan (halah...). Padahal buku ini bisa dijadikan ajang propaganda untuk "MARI MEMBACA"
Oke deh, sign-off dulu. MET MEMBACA!!!!
|
Friday, December 15, 2006



This morning when I got up, I thought about something strange. Like terrorism, people who live under poverty, poor, doesn’t have right etc. It happened because I got very bad dream. I won’t tell you what it was....
Why?! I asked to my self, why I was thinking about problems that weren’t my business. I’m afraid what in my dream come true especially in my country. When a lot of people don’t care each other –like me- thought all come up is just government thing. In fact, government or everybody has right to deal with it don’t care, also. When the house of representative doesn’t represent the citizen, so who will care all of it?
After 9/11, Bali blast, boom suicides, in Indonesia or in other country, and all the issues came up with it -why they don’t care? Do you think all the problem solves by the law? Do you think after the terrorist died all the problem finish? For me, all of this isn’t the problem solver. I’m afraid, one day all terror haunted our live once more. Boom! Civil died! Today, now day seems to be Indonesia safe. No, I don’t think so. Maybe natural disasters pursue their steps. Who knows? We have to keep our eyes open or they get opportunity to spread the terror. Free your mind from terror! For a peace live.
Well, why people had been influence by false doctrine easily? Because they live under poverty, poor, they doesn’t have right to get a good education. People are being frustrated because no one cares. They feel life behind. Because they don’t have something important in live, so, they do a false doctrine easily.
In my eyes –now days- a lot people talk about religion. It’s good. I trust religion can bring us be a good human being. But I disagree when people bring a religion become a weapon to hurt another.
What I want? Live in peace. After that, I wish everybody walk in right track. Government do what they should do, the house of representative should represent their citizen. Take care, respect, and love each other. Because in the world not only about Bush vs. Laden or Iraq vs. America. World cope with a lot of problem; poverty, poor, uneducated, AIDS, natural disaster, trafficking, worse health facilities, increasing gas price, pollutions, illegal logging, global warming, corruption,drugs etc. This is the real war we face it. We need hands, commitments, and efforts to make a better world for the next generation.

There's A Place In Your Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could be MuchBrighter
Than Tomorrow
And If You Really Try
You'll Find There's No Need To Cry
In This Place You'll Feel
That There's No Hurt Or Sorrow
There Are Ways To Get
ThereIf You Care Enough For The Living
Make A Little Space
Make A Better Place...Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
|
Monday, December 11, 2006

Wang le you duo jiu
Wo kai shi huang le
shi bu shi wo you zuo cuo le shenme
wo yuan bian cheng tong hua li
zhang kai shuang shou ni na de ge tian shi
xin fu he kuaile shi jie ju

wo yuan bian cheng tong hua li
wo yao bian cheng tong hua li
wo hui bian cheng tong hua li

ni yao xiang xin
yi qi xie women de jie ju
xin fu he kuaile shi jie ju


Lupa sudah ada berapa lama
Berpikir lama aku mulai tertegun
apakah aku melakukan kesalahan lagi
Aku ingin berubah menjadi tokoh dalam dongeng
membentangkan kedua tanganku menjadi malaikatmu
Yang berakhir dengan penuh kebahagiaan selamanya

Aku ingin berubah menjadi tokoh dalam dongeng
Aku mau berubah menjadi tokoh dalam dongeng
Aku bisa berubah menjadi tokoh dalam dongeng

Kamu harus percaya
Bersama-sama menulis cerita akhir kita
Yang berakhir dengan penuh kebahagiaan selamanya

Surabaya, 10 Dec 06
PS: Spesial buat pangeran hati ^_^
|
Minggu-minggu terakhir ini acara berita di’meriahkan’ tentang fenomena poligami dan kasus video porno yang melibatkan perselingkuhan. Aku tidak menyamakan karena memang tidak sama. Pilihan Aa’ Gym lebih terhormat daripada si YZ yang terang-terangan berselingkuh dengan WIL. Poligami dan segala macam aturannya, ntah yang pro ataupun yang kontra, kok semata-mata membuat ini menjadi hitam dan putih. Padahal, ketika aku berpikir, semuanya ini semata-mata hanya area abu-abu. Dan terus terang, fenomena poligami dan tentu saja perselingkuhan membuat saya takut dengan keputusan suatu saat saya akan berumah tangga, dibandingkan perceraian selebritis disebabkan oleh hal-hal selain hadirnya cinta kedua. Karena ini semua sepertinya relative, padahal kebenaran tidak bisa relative. Kebenaran sifatnya mutlak dan hakiki.

Oke, jika YZ jelas-jelas tidak bermoral. Selingkuh. Diketahui atau tidak oleh istrinya perbuatan itu jelas-jelas amoral. Mematahkan sumpahnya sendiri ketika menjalankan ijab qobul. Bagiku, perselingkuhan itu luka yang tidak bisa disembuhkan. Layaknya piring retak, dilem pun bekasnya akan kelihatan. Dia yang makan mangga muda, tapi yang ngilu keluarganya.
Bagaimana dengan poligami?! Saya bertanya, kenapa agama yang saya anut memperbolehkan itu? Ya, sunnah bukan wajib memang. Mengapa Tuhan membuat sesuatu yang pada akhirnya justru menjadikan perselisihan? Itu pertanyaan. Oke, poligami bukan perzinahan. Yang kembali saya tanyakan, bagaimana proses pemilihan si madu? Saya rasa tidak hanya menggunakan rasio, tetapi juga mata hati. Menunggu getaran-getaran cinta? Bagaimana mungkin asal main nikah tanpa hati ini tergetar? Ntah dari kemolekan rupa, perilaku, atau entahlah apa namanya. Jadi, ketika seorang suami yang beristri, hatinya mencinta lagi dan lebih-lebih ingin memiliki apakah bukan termasuk mengingkari janji akan setia sampai mati? Ataukah di agama yang saya anut, setia tidak masuk dalam daftar laki-laki? Padahal agama yang saya anut mengajarkan sebuah cinta kasih, menyakiti orang lain saja tidak boleh apalagi menyakiti istri. Orang yang telah dianggap menjadi tulang rusuknya sendiri. Ataukah memang pria memiliki letak derajat lebih tinggi, dan karena wanita hanya sebagai tulang rusuk maka hanya memiliki derajat untuk dipilih, bukan memilih? Karena itu, apa yang diinginkan maka terjadilah. Cobalah balikkan, bagaimana jika hati istri terbagi, tergetar oleh cinta yang lain? Haruskah mengubur dalam-dalam perasaan itu demi menjaga keutuhan rumah tangga? Mengapa harus berkorban? Karena tidak ada hukum yang mengaturnya?

Bagaimana dengan hadirnya pihak ketiga? Bagi saya inilah kuncinya. Pernah membaca Biru? Buku karangan Fira Basuki? Tentang tokoh, Lindih-Setiawan-Kira? Saya, perempuan, amat sangat benci dengan tokoh Kira. Mengatas namakan takdir Tuhan karena mencintai suami orang. Sosok-sosok seperti Kira lah yang membuat wanita menjungkir balikkan derajat kemanusiaan apapun jenis kelaminnya. Di sinilah wanita yang disebut iblis, sumber malapetaka. Mengetahui seorang pria telah menikah harusnya menghormati perikatan yang telah dilakukan, tanpa perlu memandang masih adakah cinta diantara keduanya. Saya yakin, siapa pun sosok wanita ke-2, dia juga bukan pemenangnya. Dia memang berhasil membagi cinta sang suami, tapi dia tidak akan pernah bahagia. Sosok Kira yang selalu menjadi yang ke-2, tidak berhak punya anak karena Setiawan tidak mau rumah tangganya dengan Lindih hancur. Adakah kebahagiaan untuknya?! Setiawan datang hanya untuk memuaskan nafsunya, walau katanya, Setiawan juga mencintainya. Coba hilangkan rasa cinta itu, dia tak lebih daripada PSK.
Siapakah korban? Jelas betul istri sah dan anak-anaknya. Bagaimana pun kesalahan/kekurangan istri yang bisa dibuat alasan untuk memiliki wanita ke-2, saya rasa bisa dikomunikasikan, diperbaiki, kalo masih mau menjunjung janji sumpah pada Tuhan ketika menyatakan kesediaan menikah hingga maut memisahkan. Jika tidak bisa mentoleransi kesalahan/kekurangan, selesaikan dulu, yah...sayangnya mungkin berakhir dengan perceraian. Istri infertil bisa ditanggulangi dengan adopsi. Yah, balik lagi siy...jika memang pria-pria itu mencari alasan, mereka harusnya tahu...mereka sedang mengingkari janji mereka sendiri kepada Tuhan. Kalau toh, si istri berlapang hati berbagi cinta kasih...bagi rasio saya, itu mungkin jika kita (wanita) bukan manusia lagi.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika cinta itu menyapa saat sudah terikat dengan seseorang? Haruskah berpasrah ini memang takdir? Tidakkah kita punya daya untuk menolaknya wahai manusia? Cinta itu karunia Tuhan, lho! Cinta itu panggilan hati nurani, hak hakiki, tak bisa dinafikan begitu saja. Berarti dibenarkan panggilan cinta itu?

Pertanyaan terakhir, ketika istri si Aa’ bilang ‘yah, memang kita tidak boleh terlalu cinta dengan pasangan hingga kita menjadi egois, tidak mau berbagi’ Egois?! Apakah memang begitu adanya maksud Tuhan dibalik kisah poligami? Tapi haruskah kita membelenggu jiwa kita dan tidak merdeka dengan perasaan sendiri?

Bagaimana dengan saya? Well, jujur seperti saya ungkapkan diatas. Saya takut! Takut jika dipoligami, lebih-lebih amat takut jika harus menjadi yang ke-2. Saya, selama jadi manusia, saya tidak mau dipoligami. Apapun alasannya...saya akan mengundurkan diri, memilih kemerdekaan diri saya. Tidak egois bukan?! Saya percaya dengan pasangan saya sekarang ini ^_^. Kami sama-sama sedang memantapkan hati (semoga bukan saya saja yang merasa begitu =D ). Berniat berakhir dengan pernikahan till death do us part tanpa interupsi pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Pernikahan monogami dan tidak terpisahkan. Ataupun jika kondisi terburuk terjadi, saya mungkin lebih memilih menjadi Ayu Utami berikutnya demi kebahagiaan wanita-wanita lain. Kenapa?! Well, mayoritas percaya, perempuan jauhhhh lebih banyak dari pria. Jika monogami, maka banyak wanita tidak bisa memiliki pasangan. Maka dibutuhkan wanita-wanita yang bersedia hidup salibat demi menjaga hati wanita lain. Dan untuk pemerintah, nggak usah terlalau kebakaran jenggot dengan kasus poligami. Bikin juga tuh aturan dilarang selingkuh ;p

Ini semata-mata pertanyaan diri, tidak menuntut, memojokkan orang-orang tertentu. Saya hanya berharap dan berdoa, Kita semua hidup bahagia dalam damai ^_^
|


Free Blog Content

"

Zawa-BirthdayReminder

< <

"

the kite runner