“Brrakkk!!!” Mita menggebrak pintu dengan keras hingga tangannya memerah. “Stop it, Ndre! I don’t belive you at all”. Seru Mita dengan nada suara geram bercampur isak tangis.
“Mita...Armita! Listen my explaination !” Andre meraih tangan Mitha memohon supaya Mita mau mendengarkan penjelasannya.
Mita mengibaskan tangan Andre. Dua anak sungai mengaliri kedua pipinya.
“That’s not true. Aku nggak selingkuh sama Elga. Aku...aku...”
“Halah! Semua cowok memang buaya darat! Kucing kampung! Walaupun udah dikasih makanan enak, di depan mata ada ikan asin, tetep aja disosor!” Mita menatap lurus dan tajam ke arah Andre.
Andre menggeleng-gelengkan kepala. “Aku nggak selingkuh, Mit!”
“Kamu tahu? Kamu udah bikin hatiku remuk redam. Jangan membuat janji kalo pada akhirnya kamu nggak bisa nepatin. Ndre, sakit sekali hati ini”. Mita menepuk-nepuk dadanya sambil menahan isak tangisnya. “Cukup!!!” Ungkap Mita lalu berlari meninggalkan Andre sendirian.
*****
“Mit...Mita!!!” Seru Jasmin sambil mengetuk pintu kamar kos Mita.
“Masuk!” Mita tengkurap di atas kasur. Kepalanya dibenamkan ke dalam bantal, berharap tangisannya mereda.
“Ada apa, Mit?” Tanya Jasmin sambil membelai-belai rambut Mita.
Yang terdengar malah suara tangisan Mita.
“Sssttt...sudah...sudah”. Jasmin kembali membelai-belai rambut Mita dalam diam.
Mita bangkit dan memeluk Jasmin. “Aku putus sama Andre...” Tangisan Mita kembali pecah.
Jasmin menghela nafas panjang. Prihatin dengan kondisi Mita.
“Dia selingkuh sama Elga. Aku mergokin dia lagi tidur di kamar kos Elga. Sakit, Jas! Sakit banget hatiku”.
Jasmin mengangguk tanda mengerti penjelasan Mita. “Dihapus air matanya! Makan yuk! Aku beliin bakwan tuh! Yuk!”
Mita menggeleng.
“Enak lho! Cobain barang sesuap aja. Kan belum makan dari kemarin malam”.
“Aku mandi dulu”. Ucap Mita.
“He-eh. Habis mandi makan, ya! Nanti sakit. Lagian rugi amat sakit gara-gara dodol gila itu”. Jasmin tersenyum.
“Makasih ya, Jas!”
*****
Semenjak saat itu, Mita selalu mengurung dirinya di dalam kamar. Biasanya, Mita menghabiskan waktunya dengan menulis. Ya, Mita...Armita Djenar, seorang penulis yang mulai memiliki nama. Dia ikut meramaikan jajaran penulis muda baru semenjak booming chicklit, teenlit. Dia sudah melahirkan dua buah buku. Satu berjudul, Ketika terbang ke angkasa dan satu lagi berjudul, Rayya. Keduanya sukses di pasaran. Masuk kategori best seller malahan.
Mita menyukai dunia tulis menulis semenjak duduk di sekolah dasar. Di tiap jenjang pendidikan, dia selalu tercatat sebagai pengurus mading. Dia memiliki bakat menjadi seorang penulis. Daya imajinasinya sangat kreatif. Namun, entahlah...karyanya belum begitu komersil saat itu. Kata orang, tulisan Mita dangkal. Kurang menggigit, kurang penjiwaan. Namun, berkat ketekunannya untuk terus berkarya, mencoba tanpa kenal lelah, dan terus belajar...akhirnya saat kelas tiga SMU dia berhasil menghasilkan Ketika terbang ke angkasa. Buku pertama langsung best seller. Keberuntungan yang datang pada orang-orang tertentu saja.
*****
“Jas, aku pulang kuliah langsung ke penerbit!” Pamit Mita di depan pintu kamar Jasmin.
“Hati-hati di jalan. Sukses deh!” Jawab Jasmin.
Jasmin mengantar Mita sampai ke pintu depan. Jasmin tetap berdiri di pintu sampai punggung gadis itu menghilang.
Jasmin lega. Mita akhirnya sembuh dari patah hatinya. Dua bulan masa berkabung selalu dihabiskan Mita di kamarnya. Dan rupanya masa berkabungnya justru menjadikannya lebih produktif.
Jasmin menutup pintu depan dan kembali ke kamarnya.
Jasmin bukanlah orang baru dalam kehidupan Mita. Mereka bersahabat semenjak kelas satu SMA di Jepara. Hingga kini, mereka berdua tercatat sebagai mahasiswi Universitas Gajah Mada semester lima. Mita mengambil jurusan komunikasi, sementara Jasmin mengambil jurusan sastra inggris.
*****
“Tulisanku sedang naik cetak. Bulan depan kemungkinan sudah bisa edar”. Ucap Mita saat mereka berdua sedang makan di lesehan Malioboro.
Jasmin menghentikan kegiatannya. “Ini berita besar. Wah...wah...selamat ya!”
Mita nyengir sambil kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Mudah-mudahan best seller lagi deh”.
“Amin!” Mita mengamini doa Jasmin.
“He he he...sohibku bakalan seterkenal Fira Basuki, Dewi Lestari, Ninit...wah...wah...”
“Ckk, jadi seperti mereka itu masih lama. Mereka orang-orang besar”.
Jasmin tersenyum. Mita selalu rendah hati. Tidak pernah menyombongkan diri. Mungkin karena itulah mereka awet bersahabat hingga sekarang.
*****
Rupanya ramalan Jasmin tidak salah. Buku ketiga Mita yang berjudul Detik-Detik menjadi best seller. Malah sudah masuk cetakan yang keempat. Kini Mita sibuk road show promosi bukunya.
Siang ini, Jasmin dan Arya duduk di ruang tivi menyaksikan Mita sedang diwawancari Becky Tumewu di acara Becky Show. Topiknya, Wanita dan novel. Walau Mita belum mau disejajarkan dengan penulis-penulis wanita terkenal, tapi, hari ini, dia duduk berdampingan dengan Fira basuki. Penulis favorit Mita.
Seminggu yang lalu, saat penerbitnya memberitahukan kalau Mita diundang ke acara Becky Show, wuahh...bukan kepalang senangnya. Apalagi setelah tahu kalau dia bakalan bertemu dengan Fira Basuki. Menjelang keberangkatannya ke Jakarta, Mita tidak bisa tidur. Bolak-balik ke kamar Jasmin hanya untuk bertanya, ini nyata atau tidak.
“Jasmin itu beruntung. Setiap kali dia patah hati, dia justru produktif” Seloroh Arya.
“Mungkin dengan menulis dia bisa menyembuhkan kegalauan hatinya” Timpal Jasmin.
“Patah hati bisa menghasilkan karya fenomenal. Mau juga kali ya...”
“Aryaaa!!!” Jasmin cemberut.
“He he he...maaf...maaf! Nggak mau, lah!” Arya tertawa. “Lagipula kalau bisa menghasilkan sebuah karya fenomenal. Kalo malah gantung diri karena putus asa?! Berabe”.
“Glenn Fredly juga begitu. Lagunya, januari, menjadi hits. Albumnya juga terjual berjuta-juta kopi”.
“Justru saat jatuh cinta, albumnya nggak kejual sampai segitunya”. Timpal Arya sambil tertawa.
“Ah, itu masalah nasib dan peruntungan saja”. Jawab Jasmin berdiplomatis.
“Memang kemarin si Mita putus sama Andre kenapa?’
“Hah!” Jasmin membetulkan posisi duduknya. “Katanya Andre selingkuh sama Elga”.
“Elga? Anak distro pink?”
Jasmin mengangguk.
“Ah, mana mungkin Andre mau sama dia?!”
“Andre sempat ke sini, tapi Mita nggak mau terima. Aku juga nggak nanya ke Andre”.
“Masak sih Andre selingkuh?! Dia sepertinya sayang banget sama Mita”.
Jasmin menggendikkan pundaknya. “Kamu berani selingkuh, tinggal tak pencet aja pake hammer”.
“Ha ha ha...”
*****
Belakangan ini, hati Mita kembali berbunga-bunga. Dia baru saja berkenalan dengan seorang anak pemilik radio di Yogya. Mas Desta, biasa Mita memanggilnya. Nama panjangnya Destarata.
“Ciee...yang baru pulang ngedate!” Goda Jasmin saat Mita baru saja pulang diantar mas Desta.
“Apaan sih?!” Tutur Mita pura-pura sewot.
“Udah jadian ya sama mas Desta?”
Mita Cuma tersenyum simpul, “Keliatannya?!”
“Kayaknya sih sudah”.
“Ha...ha...ha...kamu memang soulmateku sejati”. Mita mencubit pipi Jasmin.
Mita sudah menjadi Mita yang ceria. Bukan Mita yang menahan awan kelabu di matanya. Jasmin tersenyum lega. Mudah-mudahan, mas Desta lebih baik dari pada Budi, Hery dan Andre. Entah mengapa, hubungan Mita dengan pacar-pacarnya selalu berakhir dengan perselingkuhan. Pengalaman bergulir berulang-ulang kali.
*****
Jasmin kaget bukan kepalang ketika di tempatnya bekerja, dia mendapatkan kiriman bunga mawar. Arya yang mengirim dia bunga. Padahal Arya bukan tipe pacar yang romantis, yang menghujani dia dengan bunga dan puisi-puisi cinta.
“Miss Jasmin dapet bunga dari pacarnya, ya?” Tanya salah seorang muridnya les bahasa inggris.
Jasmin tersenyum pada muridnya tersebut. “All right, time is up! See you tomorrow and don’t forget do your homework!” Seru Jasmin.
“Yes, miss jasmin!” Seru murid-murid jasmin bersamaan.
Jasmin masih tinggal di kelas sewaktu murid-muridnya pulang. Ini memang jam terakhir sehingga tidak ada lagi kelas sesudahnya.
Jasmin tersenyum-senyum memandang rangkaian mawar di hadapannya. Dia meraih kartu yang terselip di bagian atas.
Ini memang bukan Jasmine, tapi Rose juga suka kan?
D
Kartu itu meluncur lepas dari genggaman Jasmin. Senyum yang dari tadi mengembang, tiba-tiba hilang. Jasmin galau bukan kepalang. D?! Mas Desta?! Tebak Jasmin dalam benaknya.
Jasmin membuang kartu ucapan ke dalam tong sampah setelah terlebih dahulu menyobek-nyobeknya dan meninggalkan begitu saja karangan bunga mawar di dalam kelas.
*****
Begitu tiba di kos, Jasmin langsung menelpon Arya yang sedang di Semarang untuk urusan pekerjaan.
“Janganlah berburuk sangka dulu. Sapa tahu D yang lain? Doni, Dimas, Danar, Dani...” Arya berusahaan meredakan kebingungan Jasmin.
“Aku nggak punya kenalan berinisial D, deh”.
Di seberang telpon Arya tertawa lirih.
“Emang kamu nggak jealous?”
“Please deh! Orangnya juga belum jelas”.
“Yawda...yawda...I miss you”
“Miss you too” Jawab Arya.
Malamnya Jasmin tidak bisa tidur.
*****
Sulit sekali memang kalau harus berpura-pura, apalagi di depan sahabat sendiri.
“Kamu sakit?” Tanya Mita.
“Nggak. Lagi banyak koreksian Pr-nya anak-anak”
“Ooo...”.
Tiba-tiba pintu diketuk.
“Eh, itu mas Desta”. Mita langsung bangkit membukakan pintu.
Deg! Bertemu dengan Desta. Jasmin menjadi salah tingkah.
“Hai Jas!” Sapa Desta ramah seperti biasanya.
Jasmin tersenyum. Jasmin menebak-nebak apakah D adalah Desta?
“Oke deh, aku mau masuk dulu”. Jasmin pamit ke kamarnya.
*****
Dalam beberapa hari ini, si D selalu aktif mengiriminya hadiah. Bunga, puisi cinta, coklat bahkan buku-buku cinta. Jasmin bingung. Penyelidikannya selalu buntu. Karena semua barang itu dikirim oleh kurir, dan sang kurir tidak pernah ketemu si D.
Jam pelajaran telah usai setengah jam yang lalu. Jasmin bersiap-siap pulang. Betapa kagetnya dia begitu melihat mas Desta di lapangan parkir menunggunya.
“Jass!”
Mau tak mau Jasmin menghampirinya, sekaligus menyelesaikan masalahnya.
“Kenapa kemari?” Tanya Jasmin ketus.
“Jemput kamu, lah” Jawab mas Desta santai.
“Jemput?!”
“Iya, Mita yang nyuruh. Katanya kamu lagi sakit dan dia kasian liat kamu harus pulang naik angkot”.
Jasmin menjadi bingung.
“Ayolah keburu malam!” Nada suara mas Desta tergesa-gesa.
Baru saja Jasmin hendak naik mobil, tiba-tiba Mita muncul dengan mata berlinangan air mata.
“Kalian tega! Tega menghianati aku!!”
Jasmin dan Desta saling berpandangan heran.
Sementara Mita tetap mengoceh sesuatu yang tidak jelas.
“Mit, kenapa kamu?” Tanya mas Desta masih dengan raut muka bingung.
“Kalau begitu, KITA PUTUS! Dan kau...bukan sahabatku lagi” Mita lari.
Jasmin berusaha mengejarnya, namun keburu Mita naik taksi. “MITAAA!!!” Teriak Jasmin memanggil –manggil.
Jasmin berdiri di pintu gerbang. Pak satpam dan Desta berada di belakangnya. Untung hanya ada mereka, kalau tidak mereka dikira sedang syuting sinetron.
“Kenapa sih Mita?” Desta bertanya.
“Kamu tuh yang seharusnya tahu jawabannya!” Jasmin mendorong Desta.
*****
“Mita...bukain pintunya dong!” Jasmin mengetuk pintu Mita, memohon supaya sahabatnya membukakan pintu untuknya.
Tidak ada jawaban sama sekali.
“Aku nggak ngerti dengan tuduhan kamu. Aku dan mas Desta nggak pernah terlibat fair”. Setidaknya seperti itu pikiran Jasmin. Fair dapat tejadi kalau ada dua pihak yang bermain. Tapi...dirinya tidak.
Tetap Mita tak menjawabnya.
*****
Keesokan paginya, Mita sudah meninggalkan kamar kosnya. Tak ada penghuni kos yang tahu kapan Mita keluar kos. Namun menurut ibu kos, sejak kemarin Mita sudah menyerahkan kuncinya dan pamit untuk keluar kos.
Di ruang tamu, Jasmin, Arya, dan Desta berkumpul.
“Sumpah mati! Aku jemput kamu karena disuruh Mita. Dia bilang kamu sakit. Aku benernya males banget malam itu”. Papar Desta.
“Aku percaya sama kamu” Sahut Arya.
“Jadi...bunga,coklat,puisi...?!” Tanya Jasmin.
Desta menggeleng. “Itu juga tidak...”
Mereka bertiga termenung. Siapa yang kira-kira tukang fitnahnya sehingga persahabatan Mita dan Jasmin bubaran.
*****
Jasmin terdiam di dalam bekas kamar Mita. Lima bulan semenjak Mita memutuskan pergi dari kos, sahabatnya itu tidak mau menghubungi dia lagi. Berbicara, paling tidak mendengarkan penjelasannya. Mita total menghilang. Entahlah, sepertinya bukan Mita yang dikenalnya.
Jasmin kembali kekamarnya. Tiga buku best seller Armita Djenar tersusun rapi di rak bukunya. Satu buku lagi karya Mita masih tergeletak di atas meja. Masih bersegel. Diraihnya buku itu, dibaca bagian belakangnya.
Ghea tak kuasa menahan air matanya, begitu tahu Melati, sahabatnya, berusaha merebut Dimas dari tangannya. Tapi apa mau dikata. Dimas lebih memilih Melati sebagai pendamping hidupnya.
Kisah ini tentang kesempurnaan persahabatan...
Astaga! Imajinasi Mita berdasarkan masalah yang terjadi antara mereka. Ini yang dituduhkan pada dirinya dan Desta. Tapi...itu semua tidak benar. Hati Jasmin masih utuh untuk Arya.
“Ya Tuhan!” Pekik Jasmin.
Kemudian dia mengambil ketiga buku best seller Mita. Benar. Ketiganya sama persis dengan alur hubungannya denga Budi, Hery ataupun Andre. Entahlah, apakah semuanya benar? Atau seperti kisahnya. Jasmin mengingat-ingat ucapan Arya. Andre anak baik yang tidak macam-macam. Begitu juga Budi dan Hery. Mereka tidak mungkin beselingkuh.
Kepala Jasmin menjadi pening. Sekujur keringat dingin mengaliri punggungnya. Apakah ini semua sandiwara Mita? Jika ya, Mita sakit jiwa. Demi ketenaran dia membuat sandiwara ini. Patah hati membuatnya lebih kreatif. Hingga dia butuh sakit hati untuk tetap berkarya. Mita kecanduan patah hati, hingga membuatnya nekat mengarang sandiwara nggak jelas.
*****
Sementara di tempat lain, Mita sedang menikmati perannya sebagai seorang penulis muda pencetak best seller. Novel keempatnya yang berjudul, Sayap patah.
“Sobat muda, sore hari ini kita kedatangan seorang penulis muda pencetak best seller, Armita Djenar. Apa kabar?” Tanya si penyiar.
“Baik-baik saja”. Mita menirukan gaya bernyanyi Pinkan Mambo.
“Saya sampai terharu begitu membaca novel anda. Air mata bercucuran gitu. Sepertinya tokoh Ghea sebagai sosok yang tertindas, dikhianati. Anyway, sepertinya benang merah dengan buku-buku sebelumnya, temanya selalu dikhianati. Ada apa ini dengan penghianatan?”
“Saya nggak tahu, itu based true story atau bukan. Setiap orang pernah merasakan patah hati. Bagi saya, patah hati selalu menjadikan momment untuk lebih kreatif, karena saya sendiri pecandu patah hati...Ha...ha...ha”
*****
By : Primadika
4 Agustus 2006
Bandara Changi
Randy berada di ruang tunggu bandara Changi. Masih lama perjalanan menuju negeri kincir angin, Belanda. Putaran waktu masih akan lama bergulung hingga menuju belahan bumi yang lain.
Randy merebahkan badannya di atas kursi tunggu bergaya minimalis.
“Hah!” Randy menghela nafas. Sisa-sisa kepenatan terpancar dari bola matanya yang coklat. Pikirannya bergelanyut pergi, berkelana menembus putaran memory masa lampau.
*****
31 Juli 2006
“Tlili...lillliii...tttt” Handphone Randy berdering.
Tampak serentetan nomor yang tak dikenalnya.
“Halo!” Sapa Randy.
“.....” Hening di seberang.
“Halo!” Sapa Randy sekali lagi.
“Halo! Randy?!”
Deg!
“Halo Vi, apa kabar?” Bibir Randy menjadi kelu.
Percakapan ini menjadi kaku. Seolah berjarak ribuan mil.
“Baik. Apa kabar kamu, Ndy?” Tanya Vina balik.
“Masihkah kau tanyakan itu?” Batin Randy dalam hati. “Uhm...aku baik-baik saja”. Jawab Randy.
“Aku sekarang lagi di Medan. Ini nomer Vina yang baru”.
“Ooo...”
“Randy lagi sibuk, ya?!” Tanya Vina.
“Nggak kok. Ada apa Vi?”
“Tanggal 5 Agustus besok Vina akan menikah”.
Deg! Handphone yang ada di genggaman tangan Randy nyars meluncur jatuh. Luka itu mengangga lagi. Luka yang belum sembuh benar kembali tersiram air cuka.
“Selamat!” Ucapan itu terdengar getir dari mulut Randy.
“Vi, juga nggak ngerti, semua berjalan begitu saja”, Ungkap Vina. “Orangtua bang Iwan menghubungi orangtuaku, dan orangtuaku menyambutnya”, tambah Vina.
Randy masih terdiam, sesekali dia berkata namun seperti tanpa makna lagi. Hatinya sekarang benar-benar runtuh. Apa yang dia harapkan, apa yang dia impikan, apa yang dia doakan selama ini harus berhenti sampai di sini. Randy ingin mencoba tegar, tapi dia tidak sanggup untuk menutupi apa yang sedang bergemuruh di hatinya. Berkali-kali tangannya harus menyeka butiran-butiran lembut yang membasahi pipinya.
Dengan terbata-bata Rady berkata, “Vi, aku sayang banget sama kamu”. Ucap Randy sekaligus ingin mengungkapkan kepedihan hatinya.
“Ndy, aku juga sayang banget sama kamu”. jawab Vina lirih. “Pengen banget sekarang ini Vi bisa meluk kamu. Vi sebenernya nggak ingin kehilangan saat-saat indah bersamamu dulu”, lanjut Vina. “Masa-masa bersama kamu dulu begitu indah, kita punya segala impian kita. Rumah bermandikan matahari, canda tawa kita, kebiasaan-kebiasaan unik kita”.
“...”
“Vi merasakan kalo kamu itu adalah soulmate Vi meskipun kita nggak berjodoh.” kata Vina lagi. “Aku juga nggak yakin kalo bang Iwan bisa menyayangi Vi seperti kamu menyayangi aku”. Ucap Vina semakin pelan. “Sekarang aku nggak lagi mencari cinta. Setelah kita pisah, asal ada yg melamar dan orangtua setuju, aku bersedia menikah” Aku Vina. “Jangan anggap aku sudah menikah, anggap aja masih seperti yang dulu”.
“Nggak bisa. Kamu sudah menjadi istri orang lain saat itu...”. Bantah Randy.
“Iya, tapi bukan berarti aku selingkuh, aku hanya pengen masih bisa melihat kamu di kehidupanku...", lanjutnya.
"Tapi Vi, sebenernya cinta itu.......", belum selesai Randy bicara tiba-tiba... “Tut.. tut.. tut...” Sambungan antara ponsel Randy dengan ponsel Vina terputus. Randy mencoba menelpon ulang, tapi ponsel Vina berdering tanpa jawaban.
*****
26 Maret 2003
Malam itu pintu kos-kosan Randy diketuk seseorang. Gadis mungil bermuka oval, bermata bulat, dengan rambut pendeknya membingkai indah wajah ovalnya, berdiri di ambang pintu.
“Randy?!” Tanyanya langsung.
“Uhm...iya. Saya Randy. Ada perlu apa?”
“Cucian kita tertukar”.
“Ohhh...sebentar....sebentar...” Randy masuk ke dalam tanpa mempersilahkan sang gadis masuk. “Ini kan?” Tanyanya begitu kembali. “Aku tadi bingung, kok ada blazer cewek di antara cucianku”.
“Nih, punya kamu!” Sang gadis mengangsurkan gantungan baju punya Randy.
“Makasih ya, sudah merepotkanmu”.
“No problem!”
*****
7 Mei 2003
Randy makan siang bersama Alice, sepupunya yang sedang berlibur di Yogya, di gudeg Jum. Seharian ini dia menemani Alice mengelilingi Malioboro dan pasar Bering Harjo dengan berjalan kaki sampai gempor.
“Bang, aku mau ke toilet dulu ya!” Pamit Alice.
Randy mengangguk sambil asyik mengunyah.
Beberapa menit kemudian, Alice kembali dengan muka berseri-seri. “Bang, kenalin temen Alice pas SMP!”
“Hah?! SMP di Medan ketemunya di Yogya?” Tanya Randy bingung.
“Randy...Vina...Vina, Randy” Alice menunjuk Randy dan Vina bergantian dengan sikap masih sumringah.
“Oh...hai”. Randy mengelurkan tangannya untuk berjabat tangan Vina.
“Hai...” Sahut Vina.
Lalu mereka tertawa. Fenomena dunia kecil.
“Kalian udah saling kenal, ya?” Tanya Alice.
“Uhm...nggak juga ya?” Kemudian Alice tertawa.
“Laundryku pernah ketuker sama punya dia” Jelas Randy.
“Ooo...” Seru Alice surprise. “Eh, Vin...udah pesen?”
“Udah kelar malah”.
“Habis gini kamu kemana?”
“Mau balik kos”
“Ikutan kita aja yuk?! jalan-jalan? Aku masih kangen ma kamu. Lagian, jalan ma abang nggak seru. Tiap ditanya, bagus nggak? Dia cuma ngangguk, padahal bohong, kan?”
“Kamu juga...belanja aja lama!” Sahut Randy sewot.
“Mau ya, Vin?”
“Iya deh... boleh”.
Sekembalinya Alice pulang ke Jakarta, Randy dan Vina tetap berhubungan. Entah lewat pesan singkat saling menanyakan kabar, saling bertelepon hingga berjam-jam, sampai akhirnya Randy jadi semakin sering mengunjungi rumah Vina untuk sekedar ngobrol ataupun makan malam.
*****
3 Juli 2003
Hujan deras baru saja menguyur jalanan kota Yogya. Bau air hujan bercampur tanah yang khas menambah atmosfer sejuk di malam ini.
“Vin...!”
“Hmm...?” Vina dari tadi memandangi anak-anak kecil yang bermain di tengah alun-alun. Mereka berkejaran kesana kemari, dengan tawa mereka yang membuat dunia penuh kedamaian.
“...”
“Kenapa Randy?”
“Vi, apa coba yang mau membuat Vi jalan sama aku?”
“Uhm...klik aja. Kenapa?”
“Aku juga nyaman kala jalan bareng sama Vina”
Vina tersenyum.
Randy menggenggam tangan Vina. “Vina, maukah dirimu menjadi kekasihku?” Tanya Randy lamat-lamat namun penuh kepastian.
Vina membisu. Tapi sorot mata gadis itu penuh pengharapan. Berbinar-binar.
“Aku mau”. Jawabnya dengan senyum simpul dan mata berbinar-binar.
Randy mengecup kening Vina, yang malam ini resmi menjadi kekasihnya.
*****
Tiap sudut kota Yogya merekam semua memory indah kebersamaan Randy dan Vina. Sempitnya waktu tak menjadi penghalang kebersamaan mereka. Di tengah-tengah penatnya hari sepulang kerja, mereka selalu menyempatkan bertemu. Entah sekedar untuk makan bersama, ucapan selamat tidur, bahkan obrolan-obrolan panjang tentang apa pun itu. Kebersamaan mereka membuat setiap orang merindu. Sang pria ganteng, si wanita cantik. Perpaduan yang serasi di antara keduanya.
“Aku suka rumah dengan ventilasi besar. Sehingga matahari bebas masuk” Ucap Randy suatu saat.
“Iya...foyernya berdinding batu, dengan ukiran khas jawa”. Timpal Vina, sementara tangannya masih mencorat-coret sesuatu di atas kertas.
“Tapi...jangan besar-besar”.
“Harus rindang”
“Ada tamannya”.
“Dan ada air mancurnya”.
“He-eh...eh, selera kita kok sama ya?!” Tanya Randy heran.
“Seperti ini, kan?!” Vina menunjukkan hasil corat-coretnya tadi.
Mata Randy terbelalak. “Iya...iya...” Ucapnya penuh semangat.
“Ha ha ha...Kayaknya kita bisa membaca pikiran satu sama lain deh”.
“Uhm...dikasih judul aja. Judulnya, Rumah Vina...dan...Randy”. Randy menuliskan besar-besar namanya dan Vina di atas kertas gambar.
“Ndy, I love you!” Bisik Vina pelan.
“I love you too”.
Tak lama mereka terbuai kata cinta yang menggetarkan jiwa, bibir mereka saling bertautan. Dalam...dalam...hingga membuat aliran darah mengalir cepat.
*****
10 November 2005
Vina tampak uring-uringan. Sudah kesekian kalinya pada hari ini handphone Randy tidak aktif. Tidak biasanya dia menghilang tanpa jejak.
“Vin, ada kiriman bunga tuh buat kamu!” Seru Lani rekan sekerja Vina.
Satu rangkaian mawar merah besar dengan kartu ucapan.
Kutunggu di Desa Resto jam 19.00
Randy
*****
Pulang kantor tanpa sempat berganti baju Vina datang ke Desa Resto. Belum nampak muka Randy di sana. Seorang pelayan menunjukkan sebuah meja atas reservasi Randy.
Vina menunggu di sana dengan sedikit kesal. Randy orangnya penuh kejutan, sedangkan dia, menyukai segala hal yang pasti. Tiba-tiba dari arah central state, alunan lagu Since I found you dengan suara khas yang begitu akrab di telinga Vina. Vina terkejut. Randy tengah berada di atas panggung menyanyikan lagu yang dipopulerkan Christian Bautista tersebut.
Randy menghampiri Vina. “Since I found you my world seems so brand new...will you marry me?” Tanya Randy bersimpuh dengan cincin di tangannya.
Suasana Desa Resto menjadi riuh.
Vina terharu. Matanya berkaca-kaca tangis kebahagiaan. “I do!” Ucapnya lirih sambil memeluk Randy erat, bagai tak terpisahkan.
*****
27 Desember 2005
“Sayang, kita harus bicara!” kata Vina suatu hari. Suaranya tampak gundah.
Beberapa waktu yang lalu Vina pulang kampung untuk menyampaikan keinginannya menikah dengan Randy kepada orang tuanya. Namun ternyata orang tua Vina tidak merestuinya. Vina sudah berusaha keras menjelaskan kepada orangtuanya tentang siapa sebenarnya Randy, tapi orangtua Vina bersikeras untuk menolaknya.
“Kalau bisa jangan sama dia” Ucap mama Vina.
Mama Vina memang menginginkan putrinya itu untuk menikah dengan pria yang satu suku dengannya. Randy yang terlahir membawa darah Sunda tentu saja tidak akan bisa memenuhi keinginan mama Vina.
“Kenapa secepat ini Vi menyerah?” Protes Randy tajam setelah mendengar semua penjelasan Vina. “Bukankah kita punya impian indah bersama? Kita akan punya anak, membesarkan mereka, menghabiskan sisa hidup bersama, kita akan mencoba menciptakan rumah bermandikan matahari seperti yang kita mau, dan banyak hal lagi, kan ?” lanjut Randy.
Mata Randy terlihat berkaca. Matanya tampak sedemikian gundah, menyimpan sejuta resah.
“Aku juga nggak ingin ini terjadi, sayang. Aku benar-benar sayang ke kamu” Ujar Vina seolah berusaha menenangkan perasaan kekasihnya tersebut. "Aku bingung, Aku rasa hubungan kita sudah nggak bisa maju lagi. Sayang, coba mengerti yah? Di satu sisi orangtua, di sisi lain kamu”. Lanjutnya.
“Orangtuamu belum pernah mengenal diriku. Belum pernah bertemu sekalipun. Lalu kenapa memangnya kalau aku yang terlahir sebagai orang Sunda berniat meminang anak gadis yang berdarah Batak?! Kenapa? Beri aku alasan yang satu juta kali lebih rasional. Apa ketika Sunda menikah dengan Batak akan terjadi bencana maha dasyat? Kenapa? Kenapa harus alasan itu? Takdir yang tidak bisa aku pungkiri”.
Vina terdiam dalam kebisuan.
“Maaf! Vina tidak bisa melawan mereka”. Ucap Vina lirih.
“VINNN!!!” Randy membentak Vina. “Kenapa kamu? Aku tidak memintamu melawan mereka, paling tidak bantu aku meyakinkan mereka. Apapun aku, darimana pun aku, aku berusaha menjadi suami yang akan mencintai, melindungi, menjagamu, sampai maut memisahkan”.
“Kita....putus!” Ucap Vina tiba-tiba sambil melepas cincin yang bertaut di jari manisnya. Vina menyerah.
“VINAA?!”
Sejak saat itu Vina menghilang. Telpon dan sms dari Randy yang tak berbalas, kepindahannya dari kos yang tiba-tiba. Pupus sudah harapan Randy bersama merajut kasih bersama Vina. Randy merasa kalah sebelum berperang.
Sudut kota Yogya tidak lagi menemukan kemesraan mereka, canda tawa mereka, bahkan tatapan mesra mereka.
*****
4 Agustus 2006
Bandara Changi
From :
randyaditya@yahoo.comTo :
vina_nisa@yahoo.comSubject : Re: Will we meet again?
Dearest Vina,
Sorry baru kali ini aku bisa bales. Aku sekarang dalam perjalanan ke Belanda. Kalau kamu bertanya Will we meet again? I don’t know....
Kamu nggak usah minta maaf, kalau dipikir tidak ada yang salah. Beginilah sudah jalan takdirNya. Terimakasih atas doa kebahagiaan untukku.
But what is happiness anyway?
Getting what you want? What about when we lost ‘em? Now, here I am preparing for the worst in my life but still hoping for the best.
It’s hard to say I’m fine, cause I’m not. Terima kasih karena pernah ada dan jadi bagian dari hidupku. U’re the best I’ve ever had....I wish you all the best.
So...till we meet again (???)
Randy Aditya
Send
Message sent
*****
By : Primadika