Friday, August 25, 2006
Hah! Aku habis ‘berantem’ sama pengurus masjid di daerah rumahku. Nambah-nambahi dosa aja.
Gini ceritanya. Di deket rumah ada masjid tempat orang BERIBADAH, kalo sore diadakan belajar membaca al quran buat anak-anak. Tidak dipungut biaya, tapi kalo mau ngasih ya…monggo. Nah, pengajarnya mulai menipis karena kesibukan, dan kita tidak bisa memaksa orang untuk kerja sosial dengan waktu yang profesional to?... Ibu-ibu (yang aktif di masjid) punya gagasan kalo ada donatur tetap, biar kelangsungan belajar mengajar bisa berjalan dengan baik. Akhirnya dapatlah para donaturnya tersebut.
Sebelumnya :
Emang di masjid nggak ada yang kasih sedekah? Alhamdulillah, banyak. Masjidnya bagus, dua lantai, keramikan, bercat indah, ada kipas angin, berkarpet pula. Menurut si bapak A –yang biasa ngimami- uang di masjid cukup buat belajar mengajar, wong masjid sudah bagus, tinggal pemeliharaannya saja. Tapi ada bapak X yang lebih tinggi kedudukannya dalam susunan organisasi masjid tersebut tidak setuju kalo uang sedekah digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar. Uang sedekah ya cuma untuk PEMBANGUNAN –di sini yang dimaksud masjid-. Kalo dilanggar, ada ‘massa’ yang akan datang untuk mengusir orang-orang yang pro dengan membantu proses belajar mengajar.
Well…aku ikutan protes, aku blang, ‘pak, membantu anak belajar mengajar kan merupakan pembangunan juga. Membangun akhlak, mental manusia supaya berbudi pekerti, santun lebih sulit daripada membangun masjid yang cuma butuh, bata, semen, besi kolom, cor’ Eh…orangnya nggak terima. Bilang saya pendosa dsb, dst, dll….karena uang yang disedekahkan itu untuk masjid saja. Kalo udah dipake yang lain namanya penyelewengan yang akan diganjar neraka. Duh,Gusti! Ya udah saya berhenti nggak kasih komentar. Wong manusia kok tukar pikiran dengan kebo. Lagipula apa siy gunanya duit yang ada dibuat bongkar pasang masjid yang masih layak dipergunakan, malah masih bagus. Kan mending untuk membantu anak-anak belajar baca Al quran to?
Aku nyadar banget pengetahuan agamaku cekak, ga ada apa-apanya sama tuh bapak. Tapi…dosa atau pahala kan Allah yang menentukan. Lagipula itukan bukan penyelewengan? Salah nggak sih saya? Duh, Gusti nyuwun pangapunten kalo pola pikir saya salah.
|
Thursday, August 17, 2006
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Wuah...Indonesia udah 61 tahun dan aku udah 22 tahun....
Harapanku buat Indonesia, semuanya rukun, tentram, damai, makmur, dan dilindungi dari bencana.
Kalo harapan buat diriku....Banyakkkkk!!! 22 year old of age means a lot. A step older...of course. Lebih dewasa, mandiri secara financial,menjadi berkat bagi orang banyak,dipanjangkan sabarnya dan nggak temperamental -> Ini yang susah ^_^'
Kemarin ngobrol-ngobrol ma temen foreign, She said I'm so lucky. Oh...yeah. Pasti itu. Tuhan kasih saya kesehatan, kehidupan yang luar biasa seru. Ada keluarga yang suport, pangeran hati yang sabar,sahabat-sahabat yang seru-seru banget dalam suka dan duka. Hehehe...bukan itu siy lucky-nya. Dia bilang lucky karena I'm 22 years old but I've stayed home w/ my parents. Hahaha...itulah beruntungnya aku. Lahir sebagai orang Indonesia, Jawa pula !_! Aku nggak boleh 'keluar' rumah sampai ada yang ngelamar. Puas-puasin deh jadi parasit lajang sebelum ada yang minang :p Tuh kan, jadi orang Indonesia itu nikmat sekali ^_^
Malamnya ngobrol sama akang ampe 2 jam lebih, kangen banget. Sampai kupingku panas. Nasib long distance =D Hari ini seharian mingle sama keluarga besarku -yang nggak besar jumlahnya-. Kebetulan aku lahir di male kingdom jadi rada-rada jadi ratu gitu. Mana sepupuku pada seru-seru sama kakak perempuannya. Ngerumpiin panjang lebar deh...tapi topik obrolannya berkisar teknologi, mobil, dan cewe-cewe !_! Harapan mamaku, tahun depan biaya makan-makannya aku yang nanggung. Wuahhh...Amin!
Tapi keseluruhan di Surabaya semarak sekali ya 17an kali ini. Seneng deh kalo kompak gitu. Mari kita pelihara nasionalisme. MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!
PS: Ultahku sama seperti Ultah alm.eyang kakung. Ngumpul pas 17an bukan cuma karena ultahku tapi udah jadi rutinitas. Doaku buat Yang Kung, Semoga damai di sisi-Nya.
|
Friday, August 11, 2006
Doeng...doeng...doeng!!!
Siapa siy penemu tulisan kanji? Please deh susyah. Belajar ngeja b-p-m-f aja bikin kepala mumet. Bikin give up neh...tapi...Cia Yo!!! T_T
Oia, my soulmate...si Nyo-nyo tersayang lagi super duper stress. Secara sidangnya diundur...undur...dan undur. Kemarin gara2 pak sautma sakit dan katanya bu pwee cuti sampai tanggal 22. Makan ati ya pastinya...Tabahkan hatimu nduk....Lebih enak kamu. Lha aku?! Parasit Lajang yang ga juga-juga dapet kerjaan. After all that long interviewed. PCU-ku tercinta pleaseeee!!!! Sebelum resmi graduation make my dream come true...
Seharian tadi kerjaannya baca blog orang. Emang hobi baca siy...tapi kalo baca blog kaya baca suatu serial. Nah, baca tuh blog punya seorang kawan. Miris bener sampai aku menitihkan air mata (emang aku gampang terharuan siy ). Hwa...jangan sampe deh ngalamin begituan. Sakittt...nggak ketulungan. Wis, bye-bye saja dari bumi Indonesia. Kemana ya?! Kepikirannya ke Denmark. tapi...amit-amit...Gusti Allah nyuwun pangapunten, jangan sampai begitu.
Uhm...jalan hidup orang nggak ada yang tahu. Tapi kalau sampai putus cinta karena kisah siti nurbaya. Hah! Sekarang jaman siti nurhaliza @_@
Aku percaya petuah orang tua, intuisi mereka...tapi orang tua kan juga manusia. Sometimes mereka salah. We have our own live. Kehidupan memang sebuah kotak-kotak. Berani tidak kita membuka sebuah kotak yang kita clueless apa isinya. Bisa jadi happiness time, bisa juga jadi kotak pandora. Hah! Damn,
why there always options in our live? Sangat mudah bilang, see the bright side...that's the best for your life...is that just a cliche. Half our body say to face us and other half broke. No one...no one can answer it.
|
“Sibuk ya? Ada waktu?”
Aku menengadah dan melihat Nicholas berdiri di depanku.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Kemana si Dewi, sampai-sampai membiarkan orang lain masuk ke ruang kerjaku tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Pintunya memang tidak kututup. Jarang sekali kututup memang.
“Hai, sibuk banget ya?” Nicho menyapa lagi.
“Hai…wow…tumben….” Basa-basi yang basi sekali.
“Ada waktu nggak?”
“Buat?” Aku meletakkan pensil dan merapikan beberapa kertas gambar yang berserakan di atas meja.
“Ngobrol aja”.
Aku mengerutkan dahiku. “Have sit, please!”
“Nggak di sini”.
“Kenapa? Ini kantorku”.
“It’s lunch time, sekalian aja makan siang. Emang udah makan siang?”
“Ya...oke” Aku menyahut datar dan meraih tas jinjingku.
Lantas aku dan Nicho pergi makan di restaurant dekat kantor. Malas pergi jauh-jauh dengannya. Lagipula banyak design yang belum selesai kubuat.
“Ada apa nih? Sampai kamu bela-belain pulang ke Indonesia”. Tanyaku langsung setelah kami sama-sama memesan makanan.
“Kamu masih marah sama aku?” Tanyanya datar.
“Atas?!”
“Uhm...yang dulu itu...”
“Oh...C’mon it was so long time ago. Udah hilang rasa marah itu”. Jawabku tanpa ekspresi.
“Aku denger...kamu mau nikah tahun ini?” Katanya.
Pelayan datang membawakan pesanan kami. Ayam saos metega, jus jeruk untuk Nicho dan air mineral untukku.
“Itu rencananya, belum ada tanggal pasti. Sepertinya November. Datang ya!”
Beberapa menit kemudian kami sama-sama menyelesaikan makanan kami.
“Shin...” Ujar Nicho ragu.
“Kamu tadi mau ngomong apa?” Aku malas berbasa-basi terlalu lama.
Nicho diam sejenak. Sepertinya dia mengumpulkan kata-kata yang tercerai berai. Melihat kearahku dengan tajam. “Shin, maafkan aku waktu itu”.
Aku menghela nafas. “Sudahlah...itu cerita basi”.
“Saat itu aku pikir, itu bukan waktu yang tepat buat kita. Kita terlalu muda untuk serius. Lagipula...Belanda – Indonesia tidak pernah sedekat ini. Kupikir...” Nicho menggantungkan ucapannya dan aku berusaha sabar menunggu kelanjutannya. “Itu penyesalanku Shin. Penyesalan...penyesalan yang ingin sekali kuperbaiki. Kupikir...”
Aku menegakan telingaku.
Nicho diam hingga ada jeda panjang.
“Nik! Tidak ada yang harus disesali. Saat itu begitulah adanya. Awalnya aku nggak terima, hanya karena kamu jauh...kita terpaksa putus. Aku nggak keberatan jauh-jauhan sama kamu, toh untuk kebaikan kamu. Tapi...keputusanmu lain. Empat tahun akhirnya berakhir hanya karena kamu ke Belanda. But...itu cerita lalu. Aku sudah bisa terima perjalanan itu”. Aku sendiri kaget melihat perucapanku yang lancar atau mungkin aku kini sudah mempunyai Rama. Entahlah...
“Justru aku yang tidak terima. Ketololanku tak termaafkan. Karenanya...sebelum terlambat...mau nggak...jadi istriku?”
Aku tersedak. Air mineral berhamburan dari mulutku, mengenai muka Nicholas. Buru-buru aku meletakkan gelasku. Mengambil tissue banyak- banyak untuk mengeringkan semburan air dari mulutku di muka Nicho. “Maaf...sory, sory banget...”
Nicho lebih salah tingkah.
“Oke! April mop udah liwat dodol. Mana kameranya?!” Aku celingukan melhat sekeliling. Memeriksa ada atau tidak sinar merah kecil yang tersembunyi. Sayang semuanya normal. Tidak ada yang aneh, selain orang – orang yang menatap aneh ke arah kami.
“Ini bukan reality show, april mop, apapun namanya. Aku serius ngajakin kamu menikah”.
Glek! Aku menelan air liurku. Tak bisa berkata-kata. Aku beku. Jika itu datang saat kami masih bersama justru aku akan kegirangan. Tapi ini lain...aku sudah punya kekasih hati. Kekasih hati yang setia menungguku.
Aku bangit dari tempat dudukku dan buru-buru membayar di kasir. Dia menyusulku seketika.
“Aku nggak main-main, aku serius”.
Aku berhenti. “Orang tolol dan nggak punya hati yang sanggup melakukan ini!” Ucapku ketus. “Ninggalin aku tanpa pamit, cuma sepucuk surat untuk bilang goodbye. Setelah sekian lama aku berusaha menyembuhkan luka hati, aku mau nikah...lalu kamu tanpa sadar ngajakin nikah. What is in your mind?! Egois!” Nafasku memburu.
Nicholas diam seperti patung.
“Ini karena ego semata, kan?! Kenapa aku manusia tolol, naif, yang cuma cinta kamu saja, mampu mencintai orang lain. Ini yang bikin kamu nggak terima kan?! It’s not about competition. Kalo mau ngerusak hidupku...Go to hell”. Tanpa ba bi bu aku berlari meninggalkan Nicholas yang masih diam mematung.
*****
Aku langsung pulang tanpa kembali ke kantor. Mobil masih kutinggalkan di sana. Kepalaku, dadaku mau meledak. Emosiku bertumpuk-tumpuk. Marah, gusar, perasaan tidak terima dipermainkan.
Lima tahun yang lalu. Aku tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya air mata mengiringi kepergiannya. Kupikir air mata itu hanya untuk kepergian dia melanjutkan studi di Belanda. Ternyata ada sepucuk surat yang ditinggalkannya. Sepucuk surat yang berkata hubungan kita sampai di sini. Kenapa?! Apa masalah jarak? Apa jarak tidak bisa dikalahkan dengan teknologi. Aku tak habis pikir. Kuhubungi dia dengan berjuta sms maupun email untuk menanyakan keinginannya bersama lagi. Namun...nihil...tidak ada satu pun balasan yang kuterima. Aku pasrah...walau sedih...sakit.
Dua tahun belakangan ini aku bertemu dengan Rama Wiryawan. Laki-laki yang membuatku terlahir kembali. Laki-laki yang melelehkan kebekuan hatiku untuk mau menerima kehadirannya. Dan kini...kami akan menikah. What a natural born jerk he is....datang saat aku akan menikah... Dasar cowok brengsek!
“Rama...Nicho ngelamar aku” Aku segera menelpon Rama begitu tiba di rumah.
“Oya...? Gimana ceritanya?” Tanyanya tenang tanpa kekagetan sedikit pun.
“Dia nanya apa betul kita mau nikah tahun ini...lalu...mmm...dia ngajak nikah gitu aja. Sorry...aku nggak mau membebani kamu, but i just think you should know”. Aku pikir Rama orang pertama yang harus tahu dari diriku.
“Hebat dong calon isriku, masih dilamar orang lain...aku emang nggak salah pilih”. Tawa kecil terdengar di seberang telepon.
Aku tidak percaya dengan reaksi Rama. Memang perempuan itu drama queen tapi...ini calon istrinya dilamar orang lain.
“Shin?!...”
“Kenapa reaksi kamu begitu?” Aku tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Aku harus cemburu?”
“Nggak...”
“Justru itu...karena aku percaya kamu. Setiap detik kamu selalu ada di hatiku. Aku cuma pasrah. Toh, jodoh nggak akan lari kemana, kan?” Ucap Rama Bijak.
He’s perfect! Aku menangis karena terharu.
“Kok nangis...?” Tanya Rama halus.
“Maaf ya...”
“Nggak masalah. Justru memang aku harus tahu dari kamu. Lagian kerja di offshore bikin aku tidak gampang meledak”.
“Ya sudah. Lanjut kerja gih. Love you...”
Love you always, sayang....”
Emosiku mereda begitu mendengar suaranya. Tuhan begitu adil memberikan pria sempurna untukku.
*****
Aku menanda tangani beberapa lebar dokumen. Aku tersenyum lebar kepada Mr. Soren. “Thanks you!”
“It’s fun work with you”. Tutur Mr. Soren, pria berkewargaan Denmark yang menjadi rekan bisnisku.
Aku tersenyum, “I hope next year i’ll visit Denmark”.
“Andai kamu tidak keburu menikah, ada tawaran beasiswa untukmu untuk lanjut sekolah lagi di sana”. Ucap Mr. Soren yang juga seorang dosen arsitektur.
“Yes. Learning design is my other passion, but there is always option to choose”. Aku tersenyum lagi. Sejak setahun yang lalu Mr. Soren menawarkan beasiswa sekolah design di Denmark.
“Oke, see you soon!” Mr. Soren menjabat tanganku. “Call me anytime if you want to continue your study”.
“I’ll remeber, sir!”
*****
Hari ini, aku, Rama, Melly –sepupuku-, dan ibu sedang sibuk membahas warna kain yang cocok untuk pernikahan kami. Memang baru seminggu lagi acara lamarannya.
Tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Melly bangkit untuk mengangkatnya.
“Yang maroon bagus juga untuk acara malam...” Sahutku.
“Shin, telepon dari Rumah Sakit!” Tutur Shinta.
Aku, Rama, dan ibu berpandangan heran. Kuraih gagang telepon dari tangan Melly.
“Hallo?!”
“Ibu Shnta? Kami dari Rumah sakit, Bapak Nicholas kecelakaan dan tidak ada keluarga yang bisa dihubungi. Kami temukan kartu nama ibu...kami pikir ibu kerabat dekatnya”.
“Keluarganya ada di Denpasar. Ya, saya kerabatnya”. Ucapku tanpa berpikir panjang.
Setelah percakapan singkat aku menutup telepon.
“Dari siapa, hon?” Tanya Rama.
“Nicho kecelakaan. Itu tadi dari Rumah Sakit”.
Aku tidak yakin perubahan muka Rama.
“Aku ke sana, ya? Dia nggak punya keluarga di sini. At least...sampai keluarganya datang”.
Rama tidak menjawab.
Aku tdak menunggu jawaban Rama. “Mel, temeni aku, ya?”
Melly mengangguk.
*****
Aku sampai di rumah sekitar jam 4 sore. Rumah sepi. Orang-orang pada ke mana ya? Rama?
“Ibu tadi pamit ke tempat temannya diantar pak Warno...kalau mas Rama tadi pergi”. Lapor si bibi.
Aku segera mengambil telepon dan mencoba menghubungi Rama.
Voce mail yang jawab.
Aku memutuskan untuk segera mandi. Bau rumah sakit.
*****
Malamnya aku menghampiri Rama yang sedang diam melamun di paviliun. Kami belum bicara apapun semenjak tadi sore. Kami jarang bertengkar, jarang ada yang membuat kami berbeda pendapat.
“Nicho masih kritis. Kakaknya sudah on the way kemari”.
Rama diam saja.
“Kita jadi menikah, kan?” Tanyaku tiba-tiba. Memastikan bahwa yang paling buruk tidak akan datang.
“Justru itu. Kamu sudah berpikir masak-masak pada akhirnya akan menikah dengan aku?”
Deg! Dunia berhenti berputar.
“Aku sadar Nicho cinta sejatimu”
Aku semakin pusing mencerna kata-kata Rama.
“Kita undur saja pernikahan kita...sampai...Nicho sadar”.
“Untuk apa?! Ada tidaknya Nicho nggak akan berpengaruh”.
Aku bakalan bersalah seumur hidup sama kamu atau sama Nicho kalau nggak ngasih kesempatan sampai Nicho sadar”.
Well, Rama manusia super rasional terbalik 180 derajat. Kemana Ramaku?
Rama memelukku erat sekali. “Ini yang terbaik untuk kita”.
Aku marah. “Bullshit!” mendorong badannya menjauhkan dariku. “Kamu lebih tolol daripada Nicho. Kamu tidak memperjuangkan aku! Tanya hati nuranimu. Meninggalkan aku dengan puzzle yang berserakan apakah lebih baik? Don’t you think....better you kill me!” Aku berlari meninggalkan Nicho.
*****
Semua rencana yang telah kami susun batal. Ayah, ibu menerima alasan Rama untuk membatalkan rencana pernikahan. Semua orang kecewa. Ayah dan ibu cuma memintaku bersabar. Kalau jodoh pasti ada jalannya.
Aku tidak mampu lagi melihat Rama apalagi berbicara padanya. Terlalu sakit, terlalu sedih, terlalu marah. Hanya orang gila yang membatalkan pernikahan hanya karena seseorang yang pernah mengenalku sedang terbaring sekarat. Kenapa dia meragukan hatiku di saat-saat seperti ini? Kenapa demi Nicholas? Harusnya semuanya demi kita...hanya aku dan Rama.
*****
Seminggu aku mengurung diri di kamar, entah sudah berapa liter air mata yang telah kukeluarkan. Aku mungkin lebih lemah daripada Nicholas yang terbaring tak sadarkan diri. Aku seperti zombie. Hidup tapi tak bernyawa. Sampai suatu pagi ibu Rama datang.
“Nduk, bujuklah masmu. Hatinya sedang galau, kahwatir kalo hatimu masih untuk laki-laki lain”.
Aku malas berpanjang-panjang. “Biarlah bu. Kami belum berjodoh”.
Segera setelah ibu Rama pamit, aku mengangkat telepon.
“Hello, can i speak to Mr. Soren?”
“Yes, who’s speaking?”
“Hi...i’m Shinta. Well...now i’m interesting study there...can you help me to get the scholarship?”
“Really....” Sambut Mr. Soren antusias.
*****
Hai aku Shinta Gunawan. Ya, aku Shinta...bukan titisan Dewi Shinta. Dewi yang pernah ditahan raja Dasamuka, dirayu, dihujani hadiah tiap hari, tapi dia menolak cinta raja denawa itu. Tiap hari dia hanya meminta supaya suaminya Rama memenangkan perang dan merebut kembali dirinya. Tapi...setelah berhasil memperjuangkan dirinya, sang Dewa justru sangsi dengan kesetiaan sang Dewi, hingga akhirnya Dewi Shinta harus terjun ke dalam api penyucian. Jika setia Dewi Shinta akan selamat, jika tidak dia akan hangus dibakar bara api. Dewi Shinta selamat! Semua orang bahagia! Tapi Dewi berpikiran lain...layak kah Rama menjadi suaminya? Suami yang meragukan kesetiannya.
Kalau akhirnya aku harus bejodoh dengannya...waktu yang akan menjawab. Untuk sekarang aku tak mau memohon cinta pada Rama. Aku harus berjuang untuk diriku sendiri dulu.
*****
Sebelum aku berakat ke Denmark. Aku berpamitan dengan Nicholas yang masih terbujur tak sadarkan diri. Mukanya pucat sekali.
“Hai Nik! Cepat sembuh ya. Aku pamit mau sekolah lagi ke Denmark. Well, see you next time”. Ucapku lirih.
Kakak dan ibu Nicholas merangkulku bergantian. “Terimakasih Shinta”. Entah untuk apa ucapan terimakasih itu.
Di bandara ayah, ibu, dan saudara-saudara yang lain melepas kepergianku dengan berat hati. Ibu menangis sesegukan.
“Saya akan kembali” Janjiku pada ibu.
Sebelum check-in aku sempatkan mengirim sms ke Rama.
Aku mau berangkat ke Denmark, lanjut kuliah lagi. Thanks for another option you’ve given to me. God Bless You!
Denmark, i’m coming.....new life, new spirit, new hope....
By : Primadika
|
Monday, August 07, 2006
Hah...patah tulang...patah tulang dueh. Gini ini kalo dikejar2 deadline mematikan. Ngirim penawaran ke PT. Tempo. Untung bisa masuk sebelum waktunya. Tadi pake acara 'lari-lari' nyari fax. Nggak tahu...pake fax yang di kantor kok ga bisa. Uhm...positif thinking aja dah...kalo rejeki ga akan kemana. Tul ga?!
Operasi tante kemarin berjalan lancar. Uhm...kista siy. Tapi menurut pengalaman kami, kalo kistanya utuh, isinya air, warnanya nggak kuning...insyallah bukan cancer. Tapi liat aja hasilnya kamis/jumat besok.
Hari ini my soulmate -Nyoim- mau sidang tapi nggak jadi karena pak sautma sakit. Bete dikit dianya, tapi yah...there's always be a good time ;p Go nyoim go!
|
Thursday, August 03, 2006
Well...capek ya hari ini...Yang lagi menggelitik pikiranku tentang pernyataan bahwa infotainment haram. Hehehe...jadi ketahuan niy siapa infotainment yang bagus, siapa yang nggak. Menurut pendapatku, aku paling salut sama bintang group. Bagiku mereka jurnalis infotaiment, walo nggak 'semenarik' insert ato expresso. Dari expresso tadi yang aku sempet liat, dia melontarkan pernyataan bahwa MUI mengharamkan infotainment tanpa ada penjelasan lagi. Nah, haram di benak kita kan...sesuatu yang dilarang dan jika dipaksakan akan berakibat dosa. Padahal kan nggak begitu yang dimaksudkan MUI. Haram dalam konteks, menyebar aib, fitnah, penuh dengan cacian dan makian. Aku setuju kalo ada pembatasan berita infotainment. Apalagi kalo diinfotainment isinya cacian, kutukan, yang ngeri didenger. Apalagi ngeliat pertikaian antara orang tua dan anak. Selebritis seolah2 telah berbuat makar yang perlu dihakimi. Dia kan bikin dosa yang sifatnya personal jadi yah...sekedar berita tanpa perlu jadi kompor. Apalagi niy...kalo ga dapet dari info dari narasumber langsung, akan menghubungi pihak ke lima, sepuluh,dst...dan yang paling parah narasumber yang bersifat klenik. Cenayang, paranormal, ahli tarot, apalah...padahal yang suka diusung infotainment adalah life style modern and sophisticated ^_^Dan yang lucu lagi. Polisi males nangkep koruptor ;p mereka asyik mengintrograsi para modelnya playboy. Hahaha...bukan nggak setuju ya sama laporan FPI, tapi dengan sikap polisi itu lho...para model, kontributor dijadikan tersangka, tapi majalahnya nggak diberendel dan dianggap ilegal. Lucu ya?! Nyabut rumput kok cuma dipotong, harusnya dicabut sekalian akarnya ;p tapi itulah...ngecengin model kan asoy, ya pak?! Lagipula yang dituntut kok cuma model dalam negeri siy? semua dong yang ada di playboy. Dan Nuntut KD and samsons?! Emang mereka yang masang iklan? Hah!!! Sia-sia tuntutannya....Btw, tanteku insyallah besok mau operasi gondok. Doain berjalan lancar ya....God Bless You All...
|